Jumat 22 May 2020 23:30 WIB

Dedi Mulyadi Usul Jam Buka Pasar dan Toko Diperpanjang

Menurut Dedi, fenomena masyarakat membeli baju lebaran tidak bisa dihindari.

Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Dedi Mulyadi.
Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Dedi Mulyadi.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Anggota DPR RI, Dedi Mulyadi menyarankan agar jam operasional pasar tradisional dan toko pakaian diperpanjang pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuannya, untuk menghindari desak-desakan warga yang membeli baju baru menjelang lebaran.

"Bagi masyarakat tertentu, membeli baju lebaran itu suatu hal yang istimewa. Jadi itu sulit dihindari," katanya, dalam sambungan telepon yang diterima di Karawang, Jumat (22/5).

Baca Juga

Dedi menyampaikan agar berbagai pihak bijak menyikapi fenomena kerumunan warga yang membeli baju baru di toko pakaian dan pasar tradisional menjelang lebaran. Menurut dia, beli baju baru menjelang lebaran menjadi hal istimewa karena bisa jadi ada masyarakat tertentu yang hanya membeli baju baru saat menjelang lebaran.

"Begitu juga mereka yang membeli daging sapi menjelang lebaran, ini juga merupakan peristiwa sakral bagi mereka. Jadi tak bisa dihindari," kata Dedi.

Legislator dari Partai Golkar ini meminta semua pihak bijaksana dalam menyikapi fenomena masyarakat yang tetap beli baju lebaran pada masa pandemi Covid-19. Menurut dia, persoalan utama yang muncul adalah terjadinya antrean dan berdesakannya orang di pasar tradisional maupun toko pakaian. Apalagi sudah sebulan ini banyak toko pakaian tutup. Kondisi itu tentu rentan menyebabkan penyebaran virus corona.

Atas hal tersebut, katanya, perlu ada ikhtiar untuk mengatur jam operasional pasar tradisional dan toko pakaian, agar tidak terjadi antrean dan berdesakan.

"Sekarang ini kan jam operasional pasar tradisional dan toko pakaian dibatasi. Ini yang menyebabkan terjadinya penumpukan orang," kata dia.

Karena itu sebaiknya jam operasional pasar dan toko pakaian diperpanjang, seperti dari pukul 05.00 sampai 21.00 WIB. Dengan begitu ada pilihan waktu bagi warga untuk berbelanja. Sehingga, pasar tidak terlalu padat.

Ia juga menyarankan agar pemerintah mendekatkan barang kebutuhan warganya. Itu bisa dengan cara membuka penjualan daging sapi di setiap RW, sehingga warga tidak berbondong-bondong ke pasar. Tentunya dengan tetap mempraktikkan physical distancing.

"Syukur-syukur penjualan pakaian juga bisa didatangkan di setiap RW. Saya kira ini satu ikhtiar untuk mencegah terjadinya kerumunan di pasar dan toko pakaian," kata Dedi.

photo
Data Covid 19 di Provinsi Jawa Barat - (Republika)

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement