Selasa 12 May 2020 01:33 WIB

1.375 Orang Ikut Uji Cepat Corona Terkait Klaster Indogrosir

Indogrosir menjadi salah satu klaster Corona besar di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bupati Sleman Sri Purnomo (kiri) menunjukkan Alat Pelindung Diri (APD) yang akan didistribusikan di Sleman, D.I Yogyakarta, Selasa (5/5/2020). Sebanyak 1.375 orang telah mendaftar uji cepat (rapid test) Covid-19 terkait kasus penyebaran virus corona baru di pusat perbelanjaan Indogrosir di Jalan Magelang, Sleman.
Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Bupati Sleman Sri Purnomo (kiri) menunjukkan Alat Pelindung Diri (APD) yang akan didistribusikan di Sleman, D.I Yogyakarta, Selasa (5/5/2020). Sebanyak 1.375 orang telah mendaftar uji cepat (rapid test) Covid-19 terkait kasus penyebaran virus corona baru di pusat perbelanjaan Indogrosir di Jalan Magelang, Sleman.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan sebanyak 1.375 orang telah mendaftar uji cepat (rapid test) Covid-19 terkait kasus penyebaran virus corona baru di pusat perbelanjaan Indogrosir di Jalan Magelang, Sleman. Indogrosir menjadi salah satu klaster Covid-19 besar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Sampai laporan terakhir yang diberikan pada saya, sudah ada sekitar 1.375 pendaftar rapid test untuk klaster Indogrosir dari 1.500 kuota yang kami siapkan," kata Sri Purnomo seusai menemui Gubernur DIY di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (11/5).

Baca Juga

Sri Purnomo mengatakan semua pendaftar yang nantinya memiliki hasil reaktif, akan langsung dikarantina di Asrama Haji Yogyakarta. "Besok (Selasa, 12/5) rapid test akan mulai kami lakukan, per hari 500 orang dengan tetap menerapkan aturan kesehatan," kata dia.

Pemkab Sleman, menurut dia, juga telah menyiapkan Asrama Haji yang terletak di Jalan Lingkar Utara Yogyakarta, dengan daya tampung 156 orang. Menurutnya, jika 10 persen peserta yang melakukan uji cepat hasilnya reaktif, satu lokasi ini masih mampu menampung.

"Tapi kami berharap yang reaktif tidak banyak. Jangan sampailah lebih dari 5 persen. dan yang reaktif tentu juga akan kami dorong untuk dilakukan swab test," kata dia.

Meski demikian, ia menegaskan jika pihaknya belum akan mengarah ke PSBB dan penanganan Covid-19 di wilayahnya tetap akan dilakukan secara masif di antaranya dengan melakukan pelacakan di lingkungan pasien yang telah dinyatakan positif Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo meyakini upaya pelacakan untuk klaster Indogrosir akan membuat kemungkinan ditemukannya pasien positif Covid-19 semakin besar.

"Tidak hanya Asrama Haji, kami juga memastikan kapasitas rumah sakit di Sleman untuk menampung pasien Covid-19. Dari kejadian ini, ada sisi positifnya juga karena bisa segera diketahui, sebelum semakin menyebar," kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharjo mengatakan telah menyiapkan dua rumah sakit tambahan yakni RS Rajawali Citra dan RS Nur Hidayah. "Kami juga meningkatkan kewaspadaan karena yang ada di masyarakat sekarang ini, rata-rata sudah tanpa gejala. Kira-kira sekitar 80 persen dari pasien Covid-19 yang ada di Bantul adalah tanpa gejala," kata dia.

Bupati Gunungkidul, Badingah pun menegaskan, pihaknya akan memaksimalkan RS Saptosari guna menampung warga yang akan dikarantina. Lokasi utama ini juga telah dibantu dengan berbagai lokasi yang disediakan oleh warga di tiap desa masing-masing.

"Meski memiliki kapasitas maksimal 60 orang, karena sedang pembangunan, kapasitas RS Saptosari saat ini hanya sekitar 25 orang. Tapi nanti kalau kurang, dari Persatuan Jamaah Haji Indonesia sudah menyatakan bersedia ikut menyediakan tempat," kata dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement