Sabtu 04 Apr 2020 00:55 WIB

Tak Mudah Jadi Perawat di Tengah Pandemi Corona

Tidak semua perawat mau ditempatkan di ruang isolasi karena risiko tinggi.

Perawat dengan mengenakan pakaian APD (Alat Pelindung Diri) berupa baju Hazmat (Hazardous Material) melayani pasien suspect Covid-19. Ilustrasi
Foto: Antara/Destyan Sujarwoko
Perawat dengan mengenakan pakaian APD (Alat Pelindung Diri) berupa baju Hazmat (Hazardous Material) melayani pasien suspect Covid-19. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KEDIRI -- Bertugas menjadi perawat tentunya bukan hal yang mudah, terlebih lagi di tengah pandemi virus corona seperti sekarang ini. Selain memperhatikan kesehatan pasien, mereka juga harus memperhatikan kesehatan sendiri, agar selalu siap dalam mengemban amanat baik di dalam rumah maupun di tempat kerja.

Seperti yang diutarakan oleh Minarsih (47), salah seorang perawat di RSUD Gambiran, Kota Kediri. Sebagai seorang perawat, dirinya harus siap ditempatkan dimanapun berada. Tidak terkecuali, ketika diminta bertugas di bagian isolasi pasien penyakit menular.

Minarsih adalah satu dari sekian banyak perawat di RSUD Gambiran, Kota Kediri. Sebelum virus ini menyebar, dirinya bertugas di bagian pengendalian pencegahan infeksi (PPI). Kini ia harus bertugas guna membantu merawat pasien di ruang isolasi untuk penanggulangan Covid-19.

Bagi Minarsih, sudah menjadi risiko profesi perawat harus siap ditempatkan dimanapun, tak terkecuali ketika terjadi pandemi virus corona seperti sekarang ini.

Namun, dirinya mengakui bahwa tidak semua perawat mau ditempatkan di ruang isolasi ini, karena risiko yang cukup tinggi. Rasa tanggung jawab menjadi perawat menjadi tugas yang harus diembannya, mengalahkan rasa takut risiko terpapar. "Tidak semua perawat mau ditempatkan di sini karena risikonya yang tinggi," kata Minarsih.

Ya menurut Minarsih, tak tega kiranya melihat penderitaan serta ketakukan dari pasien, terlebih lagi yang terindikasi terinfeksi virus corona. Setiap kali pasien masuk ke ruang isolasi, bukan merasa nyaman, melainkan tegang yang didapat. "Wajah mereka sangat tegang dan depresi. Bahkan ada yang nyaris bunuh diri karena stres," papar dia.

Ya, sejak pandemi itu terjadi, RSUD Gambiran, Kota Kediri memang langsung membentuk tim dan menyiapkan sarana guna merawat pasien yang terpapar. Ruang isolasi dijadikan tempat perawatan bagi pasien yang terpapar dengan gejala mirip Covid-19.

Dalam menjalankan tugasnya, ia berusaha membangun komunikasi dengan pasien. Cara itu digunakannya agar pasien merasa lebih nyaman dan tidak depresi. Ini penting guna membangun imun tubuh.

Ia sadar, fasilitas alat pelindung diri (APD) terbatas. Sekali pakai langsung buang. Tak bisa dimanfaatkan lagi. Terlalu berisiko terpapar virus jika digunakan berulangkali.

Tak kurang akal. Minarsih berusaha mengurangi intensitas masuk dan keluar ruang isolasi. Ini karena APD yang jumlahnya juga terbatas. "Kami mengurangi intensitas keluar masuk ruang isolasi karena keterbatasan APD. Di zona merah, APD hanya bisa dipakai sekali dan langsung dibuang," ujar dia.

Sebagai gantinya, dirinya membentuk grup WhatsApp beranggotakan petugas ruangan dan pasien. Cara ini dinilainya lebih mudah berkomunikasi tanpa sering keluar masuk ruangan.

Selain menghilangkan kebosanan dan menyampaikan motivasi, grup WhatsApp itu juga bisa dimanfaatkan untuk melaporkan kebutuhan pasien seperti cairan infus yang habis. Melalui grup WhatsApp pula, pasien bisa saling berinteraksi dan mengenal satu sama lain, membangun semangat bersama-sama untuk sembuh.

Jaga jarak

Tri Sudaryati (54), perawat rekan Minarsih di ruang isolasi juga mengakui sudah menjadi tugas dan tanggung jawab seorang perawat untuk ditempatkan di manapun dan dalam keadaan apapun. Namun, ia merasa ditugaskan di ruang isolasi tekanan mental luar biasa. Tak ayal, juga di area kerja.

Dirinya pernah merasa dikucilkan karena harus bertugas di ruang isolasi membantu menangani pasien yang sakit dengan gejala virus corona. Namun, hal itu dianggapnya sebagai risiko pekerjaan. Toh, saat menerima tugas ini, ia juga tahu risikonya. Jaga jarak pun dilakukan dengan teman-temannya, demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

Sikap jaga jarak bukan hanya dilakukan saat di area kerja, sesuai dengan prosedur yang berlaku. Minarsih, saat di rumah pun, ia menerapkan hal yang sama, jaga jarak.

Bahkan, dirinya tidur terpisah dengan anak-anak, demi membuat keluarganya aman. Minarsih mengakui, dirinya kini masih orang dalam risiko (ODR), ketika bertugas di ruang isolasi. Namun, demi menjaga agar keluarga tidak berpikiran takut dan negatif, ia memilih tak menceritakan tugas yang diembannya.

"Saya juga terpaksa tidur terpisah dengan anak saya agar tidak terpapar. Sejak bertugas di ruangan ini, secara otomatis saya masuk dalam kategori ODR," kata Minarsih.

Demi menjaga keluarganya, protokol ketat tentang kebersihan dilakukannya. Setelah selesai jam bertugas di rumah sakit, dirinya langsung ganti baju di ruangan khusus sebelum meninggalkan rumah sakit.

Saat tiba di rumah pun, ia langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dan keramas, serta mencuci pakaiannya. Baru setelah itu dia bisa mendekati anak-anaknya. Tentunya tanpa bisa berpelukan.

Kendati tanggung jawab dan risiko besar di depan mata, Minarsih tak gentar. Ia juga selalu menempatkan posisinya sebagai partner pasien yang siap kapan pun juga. Bahkan, jika diperlukan, ia dengan rekannya juga merangkap menjadi kurir mengantarkan titipan dari keluarga pasien.

Saking terbatasnya APD, pengantaran titipan pun tak bisa dilakukan setiap saat. Berbeda dengan pasien di ruang perawatan lain, yang bebas keluar masuk tanpa membutuhkan perlengkapan khusus.

"Dibutuhkan ketulusan, keikhlasan, dan percaya pada Allah untuk mengemban tugas ini. Kalau Allah tidak menghendaki kami tertular, InsyaAllah aman," harap Minarsih.

Minarsih dan Tri Sudaryati adalah sekian dari belasan tenaga medis yang ditugaskan di ruang isolsai RSUD Gambiran, Kota Kediri. Tak banyak yang mereka harapkan, selain kesembuhan pasien dan selalu diberi kesehatan oleh Tuhan, sehingga bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

Tak kurang dari 12 orang tenaga medis ditempatkan di ruang isolasi tersebut. Mereka bekerja secara bergilir selama 24 jam guna memastikan pasien yang dirawat baik-baik saja.

Ruang isolasi

Di RSUD Gambiran, Kota Kediri, juga dilengkapi dengan sarana ruang isolasi khusus guna merawat pasien yang terjangkit Covid-19.

Direktur RSUD Gambiran Kota Kediri dr. Fauzan Adhima mengatakan saat ini tersedia 32 bed atau tempat tidur di ruang isolasi, yang terdiri dari enam bed di ruang isolasi instalasi gawat darurat, delapan bed di ruang isolasi tekanan negatif, dan 18 bed di ruang isolasi biasa.

Ruang isolasi tekanan negatif merupakan ruangan khusus yang dilengkapi teknik isolasi guna mencegah kontaminasi silang dari kamar ke kamar. Ventilasi di dalam ruangan ini menghasilkan tekanan negatif lebih rendah dari lingkungan sekitar, untuk memungkinkan udara mengalir ke ruang isolasi tetapi tidak keluar ruangan.

Fauzan mengatakan udara secara alami akan mengalir dari area dengan tekanan lebih tinggi ke area dengan tekanan lebih rendah. "Sehingga mencegah udara yang terkontaminasi keluar dari ruangan," kata pria yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri ini.

Teknik isolasi ini dipergunakan oleh rumah sakit yang memiliki standar operasional bagus dan digunakan untuk mengisolasi pasien dengan penyakit menular melalui udara seperti TBC, campak, cacar air, Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS-CoV), Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) influenza, dan penyakit Corona virus (Covid-19).

Selain itu, pemkot juga sudah menyiapkan sarana perawatan lainnya untuk merawat pasien. RSUD Gambiran I Kediri, yang sering disebut rumah sakit lama dimanfaatkan sebagai ruang isolasi bagi orang dalam pemantuan (ODP) pasien terinfeksi virus corona atau Covid-19 dengan gejala ringan.

Setidaknya disediakan 100 tempat tidur yang siap merawat para pasien.

Gedung Kampus I Politeknik Kediri, juga disulap, diperuntukkan bagi warga Kota Kediri yang menjadi pekerja migran atau orang-orang dari daerah epicentrum dan kembali pulang ke Kediri.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengemukakan, mereka akan dikarantina selama 14 hari di ruang observasi sambil terus dipantau kondisi kesehatannya.

"Kalau sehat boleh kembali ke masyarakat kalau ada gejala langsung dikirim ke rumah sakit. Jadi kami akan ambil tindakan tegas bagi masyarakat Kota Kediri yang datang kesini. Kami akan cek dulu disini," kata Wali Kota.

Di Kota Kediri, data hingga Jumat (2/4), jumlah orang sehat dalam risiko (ODR) sebanyak 676, orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 94 orang, pasien dalam pengawasan (PDP) nol, dan jumlah kasus terkonfirmasi dua orang.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement