REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Husein Habsyi menyarankan, agar pemerintah memperkuat pemimpin masyarakat di kalangan akar rumput. Hal ini terkait dengan mengetatkan social distancing dan pengetahuan-pengetahuan seputar Covid-19.
Selama ini, dia mengakui, anjuran secara ketat social distancing dari pemerintah pusat tidak begitu efektif. Oleh karena itu, pendekatan harus dilakukan oleh pemimpin di masyarakat seperti Ketua RT/RW, atau ketua suatu komunitas.
"Berapapun kuatnya kepres, perpres, jika tidak didukung oleh community leader atau pimpinan di tingkat akar rumput, nampaknya (social distancing) akan sulit berjalan," kata Husein, dalam konferensi pers daring, Kamis (2/4).
Dia menegaskan, peran pimpinan di masyarakat yang paling rendah menjadi sangat penting di tengah wabah Covid-19 ini. "Saat ini, kami gencar menyampaikan tentang konsep community fighting, kami menyiapkan sebuah konsep agar gugus tugas di tingkat RT/RW terbentuk," kata Husein.
Di tingkat RT/RW kontrol terhadap masyarakat akan lebih mudah dilakukan. Selain itu, hubungan antara warga juga akan mempengaruhi efektivitas imbauan yang diberikan oleh pemimpin di dalam suatu komunitas.
"Misalnya mereka bisa mengatur bagaimana mengawasi orang-orang berisiko, yaitu yang berumur lebih dari 60 tahun misalnya. Kemudian, kalau mereka melakukan isolasi mandiri mereka bisa mengatur, menajganya agar tidak keluar, dan sebagainya. Konsep ini saya rasa sangat penting," kata dia lagi.
Lebih lanjut, dia menegaskan, agar pengawasan social distancing di lapangan perlu diperkuat. Pengawasan di tingkat masyarakat bisa membantu pendeteksian kasus dan mengurangi stigma diskriminasi.
"Jika mungkin ada orang yang positif covid-19 agar tidak dikucilkan, mereka bisa ikut membantu menenangkan lingkungan. Hal itu yang mungkin harus diperkuat," kata Husein.




