Kamis 19 Mar 2020 16:37 WIB

Virus Korona; Stigmatisasi

Bencana Covid-19 meningkatkan prasangka dan stigmatisasi rasial

Azyumardi Azra(Republika)
Foto: Republika
Azyumardi Azra(Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Azyumardi Azra

Bencana pandemik global virus Korona yang juga disebut Covid-19 yang berasal dari Wuhan, China Daratan, menyebar cepat. Warga sekitar 190 negara besar dan kecil di berbagai benua terlanda penyakit yang belum ada obatnya ini. Berbagai usaha penelitian dan pengembangan untuk menemukan obat penangkal virus korona belum menampakan hasil.

Angka penyebararan Covid-19 terus meningkat di berbagai penjuru. Wabah ini mengerikan karena sudah mematikan lebih 5000 orang yang bakal terus meningkat. Belum terlihat tanda-tanda meyakinkan, kematian karena virus korona baru ini berhenti.

Tidak ada jalan pintas dan efektif untuk membendung virus korona. Ada negara-negara yang menerapkan isolasi atau karantina diri (lockdown), menutup diri penuh; tidak ada orang yang boleh masuk atau pun keluar.

Atau menerapkan penjarakan sosial (social distancing) untuk mengurangi interaksi antar manusia yang menyebarkan Covid-19. Warga dianjurkan berdiam di rumah; tidak keluar kecuali untuk urusan yang memang sangat perlu

Tetapi dalam perkembangan memprihatinkan itu, juga kian tersibak harapan dengan meningkatnya jumlah mereka yang sembuh. Di sejumlah negara, jumlah mereka yang sembuh lebih banyak daripada munculnya kasus-kasus baru mereka yang terlanda virus korona.

Hikmah dan pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus virus korona yang  menjadi pandemi global?

Satu hal penting, kemunculan dan penyebaran Covid-19 meningkatkan pertengkaran global di antara dua negara yang kini sudah menjadi musuh bebuyutan: China dan Amerika Serikat. Kalangan pejabat tinggi pemerintah China secara terbuka menyatakan virus korona adalah buatan AS yang disebarkan tentaranya yang mengikuti pekan olahraga militer di Wuhan China sekitar Agustus 2019.

AS menolak tuduhan itu. Sebaliknya menuduh China bertanggung-jawab atas kemunculan dan penyebaran virus korona secara cepat ke berbagai penjuru dunia. Kalangan pejabat tinggi AS menyatakan, akhirnya China secara ekonomi mendapat lebih banyak ‘keuntungan’ daripada AS.

Bisa dipastikan, pertengkaran di antara kedua negara ini terus berlanjut. Adu mulut di antara China dan AS jelas tidak hanya terkait bencana Covid-19, tetapi juga dalam isyu lain terkait persaingan ekonomi dan juga politik.

Pelajaran lain dari bencana Covid-19 adalah meningkatnya prasangka dan stigmatisasi rasial ke dalam interaksi antar manusia dan juga wacana dalam media sosial. Karena dibayangi prasangka dan stigmatisasi, sering perilaku dalam interaksi dan wacana media sosial tidak masuk akal. Sepatutnya warga masyarakat tetap berpikir dan bertindak rasional—menghindari diri dari prasangka, bias dan stigmatisasi.

Salah satu contoh sikap yang nampaknya bersumber dari prasangka dan stigmatisasi itu adalah perlakuan tidak menyenangkan atau bahkan dianggap diskriminatif terhadap warga dan anak-anak Jepang di Jakarta pekan lalu (9-10/3/2020). Duta besar Jepang untuk Indonesia, Mashafumi Ishii menyampaikan keberatannya ke Kementerian Luar Negeri Indonesia dan Kantor Staf Kepresidenan (KSP).

Dubes Ishii menyatakan mendapat laporan tentang perlakuan tidak menyenangkan atau bahkan diskriminasi kalangan warga Indonesia terhadap anak-anak dan warga Jepang yang dianggap sebagai penyebar virus korona. “Kami telah menyampaikan rasa prihatin kepada masyarakat Indonesia, Warganegara Jepang yang berada di Indonesia bukan sumber penyebaran virus, melainkan sahabat Indonesia”.

Menyimak komplain Dubes Jepang, Wamenlu Mahendra Siregar berjanji menyelidiki duduk perkara kasus tersebut. “Perlakuan diskrimnatif tidak bisa dibenarkan”, katanya.  Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian juga bersikap sama. “Prasangka dan stigmatisasi terkait virus korona jelas tidak bisa dibiarkan”.

Munculnya prasangka dan stigmatisasi terhadap warga Jepang terkait sebagai ‘sumber korona’ boleh jadi karena warga Indonesia tidak bisa membedakan wajah dan penampilan orang Jepang dengan orang Wuhan atau China Daratan. Muncul dan berkembangnya wabah korona dari Wuhan atau China Daratan membangkitkan prasangka dan stigmatisasi di banyak negara terhadap warga China. Di sini orang-orang berwajah mirip China—seperti Jepang—juga menjadi sasaran prasangka dan stigmatisasi. Beberapa kasus seperti ini juga terjadi di negara-negara lain.

Bagaimanapun, di tengah bencana korona yang belum tahu kapan berakhirnya, prasangka dan stigma tak patut dikembangkan. Sebaliknya, semua umat manusia harus memperkuat solidaritas dan kebersamaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement