Sabtu 07 Mar 2020 17:15 WIB

Penjualan Jahe di Ngawi Meroket Setelah Virus Corona

Stok jahe merah di Ngawi sudah kosong sejak dua hari terakhir.

Red: Nur Aini
Pedagang menunjukkan temulawak dan jahe, ilustrasi
Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha
Pedagang menunjukkan temulawak dan jahe, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, NGAWI -- Penjualan empon-empon jenis jahe di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, meningkat signifikan karena komoditas tersebut dipercaya mampu menangkal virus COVID-19 yang sedang mewabah secara global, termasuk di Indonesia.

Pedagang empon-empon di Pasar Besar Ngawi Ismiatun mengatakan peningkatan penjualan jahe dan sejumlah jenis empon-empon lainnya terjadi sejak sepekan terakhir.

Baca Juga

"Sehari bisa terjual sampai 5 kilogram jahe. Padahal, biasanya hanya laku paling banyak sekilo," ujar Ismiatun, kepada wartawan di Ngawi, Sabtu (7/3).

Menurut dia, bersamaan tingginya permintaan, stok jahe di kiosnya dan di pasaran juga semakin menipis. Bahkan, jenis jahe merah sejak dua hari terakhir kosong.

Tingginya permintaan juga berimbas pada naiknya harga komoditas empon-empon tersebut. Jahe jenis emprit, misalnya, harganya naik dari Rp 35.000 menjadi Rp 50.000 per kilogram.

"Kata pedagang pengumpulnya, harga kemungkinan masih akan naik seiring banyaknya permintaan akibat wabah corona," kata dia.

Kondisi yang sama dialami oleh Wawan, pedagang empon-empon lainnya di pasar setempat. Ia mengatakan bahwa penjualan jahe di tokonya kini mencapai 4 kuintal sehari. Padahal, biasanya paling banyak hanya 3 kuintal.

"Permintaan terus naik, selain itu stok juga susah. Kemarin cari sampai Tulungagung, tapi hanya dapat 60 kilo," kata Wawan.

Para pedagang memperkirakan permintaan jahe dan empon-empon lainnya masih akan tinggi, seiring dengan maraknya wabah global virus corona.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement