Jumat 28 Feb 2020 04:30 WIB

Din Sarankan Pembentukan Bank Umat Islam di KUII

Sudah waktunya ada bank yang secara khusus dikelola umat Islam.

Rep: Fuji E Permana / Red: Agus Yulianto
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin memberikan paparan pada Sidang Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin memberikan paparan pada Sidang Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2).

REPUBLIKA.CO.ID, PANGKAL PINANG -- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Din Syamsuddin mengusulkan pembentukan bank umat Islam di Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-VII di Bangka Belitung, Kamis (27/2). Sebab potensi dana umat Islam yang bisa dikelola sangat besar.

Din mengatakan, KUII ke-VII perlu menjadi ajang silaturrahim dan silatulfikri untuk pengambilan keputusan-keputusan strategis oleh umat Islam untuk Indonesia. Berbagai masalah umat yang dihadapi dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan politik harus disepakati jalan keluarnya.

"Saya berpendapat dalam bidang ekonomi harus segera diatasi kesenjangan ekonomi yang menimpa Indonesia," kata Din saat diwawancarai Republika di KUII, Kamis (27/2). 

Dia mengingatkan, segelintir orang yang jumlahnya satu persen dari total penduduk Indonesia menguasai ekonomi. Kebetulan mereka punya afiliasi etnik dan agama lain, sementara umat Islam yang mayoritas di Indonesia, sebagian berada di bawah garis kemiskinan.

Menurutnya, kondisi Ini tidak baik bagi Indonesia, sehingga akan memunculkan ketidakseimbangan nasional. Maka salah satu cara untuk mengatasi persoalan ini, umat Islam harus membenahi diri dalam bidang ekonomi.

"Sudah waktunya ada bank yang secara khusus dikelola umat Islam untuk kepentingan ekonomi umat Islam, karena saya tahu persis permasalahan umat Islam dalam bidang ekonomi tidak punya akses ke dunia perbankan," ujarnya.

Din bersyukur sekarang ada bank-bank syariah yang sedikit membantu umat Islam. Tapi kekuatan dana umat yang besar baik dari zakat, infak dan sedekah termasuk dana haji serta umrah perlu dihimpun dan dikelola secara profesional.

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menegaskan, jangan kegagalan dalam pengelolaan perbankan oleh ormas Islam menjadi trauma bagi umat Islam. Umat Islam jangan takut untuk mencoba mewujudkannya lagi. 

"Lakukan evaluasi, di mana letak kesalahan, ini tidak berarti harus eksklusif, karena banyak dunia perbankan (mohon maaf) yang menerapkan eksklusivisme sehingga pengusaha-pengusaha umat tidak punya akses ke dunia perbankan," jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement