Rabu 26 Feb 2020 20:40 WIB

Sukabumi Waspadai Bencana Angin Kencang

Kewaspadaan perlu dilakukan untuk mencegah munculnya korban jiwa akibat bencana.

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Andi Nur Aminah
Angin kencang bisa mengakibatkan pohon tumbang (ilustrasi)
Foto: dok. Pusdalops BPBD DI Yogyakarta
Angin kencang bisa mengakibatkan pohon tumbang (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Kabupaten Sukabumi mewaspadai bencana angin kencang yang rawan terjadi di kondisi cuaca ekstrem. Hal ini dilakukan untuk mencegah munculnya korban jiwa akibat bencana.

Terakhir bencana angin kencang melanda Desa/Kecamatan Cidahu pada Senin (24/2) lalu. Di mana ada sebanyak 18 unit yang mengalami kerusakan akibat bencana tersebut. "Warga harus mewaspadai bencana di tengah kondisi cuaca saat ini," ujar Koordinator Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna kepada wartawan, Rabu (26/2).

Baca Juga

Hal ini penting dilakukan agar warga mengetahui langkah antisipasi ketika terjadi bencana. Menurut Daeng, pada bencana angin kencang di Desa Cidahu, Kecamatan Cidahu misalnya ada sebanyak 18 unit rumah warga yang rusak. Dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa namun taksiran kerugian Rp 75 juta.

"Informasi yang diperoleh, bencana terjadi pada Senin pagi sekitar pukul 04.30 WIB," kata Daeng. Di mana ada angin barat yang cukup besar melanda di daerah tersebut di atas.

Dari sebanyak 18 rumah terdampak, satu rumah rusak berat dihuni satu kepala keluarga (KK) yang terdiri atas tiga jiwa. Meskipun rumah masih berdiri akan tetapi dinding sudut rumah dan atap pecah sehingga sudah tidak layak dihuni. Dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan penghuni rumah diungsikan ke rumah saudaranya.

Selain itu sebanyak tiga rumah rusak sedang yang dihuni tiga KK. Mereka terdiri atas 17 jiwa dan 14 rumah lainnya hanya mengalami rusak ringan. Bencana ini sudah direspons petugas BPBD dan instansi terkait lainnya untuk memberikan bantuan darurat.

Daeng menuturkan, potensi terjadinya bencana harus tetap diantisipasi oleh warga dan aparat wilayah di lapangan. Sehingga ketika terjadi bencana, maka petugas di lapangan bisa segera digerakkan ke lokasi bencana.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement