Rabu 26 Feb 2020 20:06 WIB

BMKG Ingatkan Warga Bogor Waspadai Cuaca Ekstrem

BMKG memperkirakan cuaca ekstrem di Bogor berlangsung hingga akhir Februari.

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Andri Saubani
Cuaca ekstrem (ilustrasi)
Foto: Antara/Umarul Faruq
Cuaca ekstrem (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR --  Badan Meteorologi, Geofisika, dan Klimatologi (BMKG) meminta warga Bogor dan sekitarnya mewaspadai bencana longsor, banjir bandang, dan angin kencang. Setidaknya cuaca ekstrem akan berlangsung hingga akhir Februari 202).

"Dalam pantauan kami, dalam lima hari terakhir cuaca sudah ekstrem. Curah hujannya mencapai 100 millimeter per hari. Bahkan ada yang sampai 120 millimeter per hari," kata Kepala Stasiun Meteorologi BKMG Citeko, Bogor Asep Firman Ilahi, Rabu (26/2).

Baca Juga

Firman menjelaskan, iimbauan untuk meningkatkan kewaspadaan risiko bencana sudah disampaikan BMKG kepada seluruh pemerintah daerah di wilayah Bogor. Pasalnya, tngginya curah hujan di kawasan Puncak, Bogor, kata dia, juga berpotensi meningkatkan bahaya bencana longsor dan angin kencang.

Saat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, Firman menghimbau masyarakat menjauh dari pohon besar ketika terjadi angin kencang. Dia meminta, agar seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

"Potensi air tanah di dalam tanah menjadi jenuh, jadi tingkat pergeseran tanahnya menjadi tinggi, sangat Berpotensi longsor," ucapnya.

Firman menerangkan, tingginya curah hujan di kawasan Bogor sejak Selasa (25/2) terjadi karena adanya badai tropis di Selatan Nusa Tenggara Barat terutama di Perairan Samudra Hindia. Pada kawasan Barat Laut, juga terdapat badai tropis Ferdinand.

"Badai itu sudah mulai menjauh di wilayah Indonesia, tetapi dampaknya di kawasan Jabodetabek, atau Bogor terutama membentuk daerah konvergensi air mulai dari Sumatera Selatan dan Jawa Barat bagian Selatan," katanya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor juga melaporkan beberapa kejadian bencana akibat tingginya curah hujan di Bogor, sejak Senin (24/2). Setidaknya, terdapat tiga kejadian yang mengakibatkan tanah longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor Priyatna mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Priyatna pun mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa Waspada mengingat cuaca ekstrem diprediksi melanda Bogor hingga akhir Februari.

"BPBD juga terus menyiagakan personnel selama 24 jam untuk mengantisipais risiko bencana di Kota Bogor," kata Priyatna.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Bogor Kota Kompol Fajar Kuncoro menjelaskan, setidaknya terdapat delapan jalan protokol yang ditumbuhi pohon besar. Di antaranya, Jalan Raya KH Abdullah Bin Nuh, Pajajaran, Jendral Ahmad Yani, Pemuda-Dadali, Lawanggintung, Batutulis-Dreded, Ir H Djuanda, dan Jalan Raya Harupat-Salak.

Sehingga, dia meminta agar masyarakat tetap waspada pada saat musim hujan. “Ada sekitar delapan jalan yang perlu diwaspadai saat melintas disana. Apalagi kalau sedang hujan besar dan angin kencang,” kata Fajar.

Kepala Bidang Pertamanan, Penerangan Jalan Umum dan Dekorasi Kota, Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim) Kota Bogor Feby Dermawan menyatakan pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan terhadap pohon tumbang di Kota Bogor. Bahkan, Feby menyatakan pihaknya telah menyiapkan tim penebang untuk pohon yang membahayakan dan pohon tumbang.

"Tiap hari selalu ada tim tebang untuk monitoring kalo ada pohon yang menang membahayakan," kata Feby.

Demikian, dia menjelaskan telah memangkasan pohon yang membahayakan, yakni di depan Masjid Raya yang telah mati. Dia mengatakan, telah memetakan sejumlah pohon yang akan dipangkas.

Feby menambahkan, pihaknya juga akan segara melakukan pendataan pohon di Kota Bogor dan memberi KTP. Bahakan, dia mengatakan, telah mempersiapkan domain web yang dikhususkan untuk pendataan pohon.

"Yang kita identifikasi ada masih 200 pohon lebih. Kita data, kita coba masukkan ke dalam web. Jadi kalo nanti ada masyarakat yang ingin mengetahui KTP pohon bisa akses itu," kata dia.

Dengan adanya web tersebut, masyarakat dapat mengetahui usia pohon. Sehingga, pohon yang membahayakan dapat dijauhi saat angin kencang dan tdk berteduh saat hujan.

"Jadi masyarakat bisa tau statusnya yang hijau, kuning, merah. Sehingga masyarakat tahu untuk tidak berteduh di situ," tutupnya.

In Picture: Posko Pengungsian Longsor dan Banjir Bandang Sukajaya Bogor

photo
Warga korban bencana banjir bandang dan tanah longsor beraktivitas di posko pengungsian korban banjir bandang dan tanah longsor di SDN Sukajaya 03, Harkat Jaya, Sukajaya, Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/1/2020).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement