REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Masalah penyakit leptospirosis, masih menjadi salah satu penyakit yang banyak diderita warga Banyumas. Di wilayah Provinsi Jateng, jumlah temuan kasus lepstopirosis di Kabupaten Banyumas menjadi yang tertinggi.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dwi Mulyanto mewakili Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyumas, Sadiyanto, menyebutkan, sepanjang 2019, pihaknya menemukan ada 150 warga Banyumas yang terjangkit penyakit leptospirosis. ''Dari jumlah sebanyak kasus tersebut, 4 penderita diantaranya meninggal dunia,'' ujarnya.
Sedangkan pada 2020, sejak awal Januari hingga saat ini sudah ditemukan 4 kasus leptospirosis. Dari jumlah itu, seorang penderita di antaranya meninggal dunia.
Dia menyebutkan, kebanyakan kasus leptospirosis dialami oleh warga di pedesaan. Seperti pada semua kasus yang terjadi tahun 2020 ini, antara lain terjadi di wilayah Kecamatan Sumpiuh sebanyak 2 kasus, Kecamatan Ajibarang dengan 1 kasus, dan Kecamatan Somagede 1 kasus.
''Penderita yang meninggal dunia, merupakan penderita yang berasal dari Kecamatan Somagede,'' ujarnya.
Dwi menyatakan, salah satu penyebab tingginya temuan kasus leptospirosis, karena tenaga surveilans puskesmas dan rumah sakit di Banyumas aktif mencatat data penyakit yang ada di masyarakat.
Terkait kasus ini, dia meminta a,gar masyarakat lebih menjaga kebersihan diri. Antara lain, dengan rajin cuci tangan serta menjaga makanan keluarga yang dimakan agar tidak tersentuh hewan tikus.
''Penularan penyakit ini, memang bisa akibat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman penyakit dari tikus. Tapi bisa juga tertular akibat bersentuhan dengan hewan lain seperti kucing dan anjing, namun lupa mencuci tangan saat makan,'' jelasnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas Sadiyanto sebelumnya menyebutkan, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor Reservoar Penyakit Salatiga. Kerja sama ini dilakukan dalam rangka menurunkan kasus Leptospirosis.
''Dalam kerja sama ini, kami melakukan penangkapan tikus di beberapa desa yang terjadi kasus Leptospirosis, kemudian sejauh mana tikus tersebut bisa berperan sebagai vektor penular,'' katanya.
Dia menjelaskan, tikus yang ditangkap untuk diteliti, tidak hanya tikus yang berkeliaran di rumah-rumah warga. Melainkan juga tikus yang berkeliaran di sawah, pekarangan dan kebun-kebun warga. Hal ini mengingat penularan bakteri leptospirosa tidak hanya melalui kontak langsung dengan urine tikus yang terinfeksi, tapi juga melalui air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi urine tikus.




