Kamis 13 Feb 2020 19:53 WIB

Warga Keluhkan Kali Mati di Taman Kota Hutan Jombang

Air kali mati nampak berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau tak sedap.

Rep: Abdurrahman Rabbani/ Red: Muhammad Fakhruddin
Warga keluhkan Kali Mati di Taman hutan kota Jombang yang baru diresmikan oleh Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany, Selasa (11/2).
Foto: Republika/Abdurrahman Rabbani
Warga keluhkan Kali Mati di Taman hutan kota Jombang yang baru diresmikan oleh Walikota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany, Selasa (11/2).

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG SELATAN — Taman Kota Hutan Jombang baru saja diresmikan kembali oleh Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany pada Ahad 9 Februari 2020. Hutan Kota tersebut diketahui sudah ada sejak tahun 2013. Namun dikarenakan kondisinya tidak layak taman, pemerintah kota melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) lakukan renovasi.

Selain merapihkan taman dan menambah sejumlah fasilitas di sekitar kawasan, pihak Dinas PU juga menambah saluran air atau kali mati yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Kali mati juga memiliki fungsi nantinya untuk saluran kali kembali pada fungsi utamanya yaitu sebagai saluran pembuangan air.

Pemerintah Kota Tangsel menghabiskan dana sekitar 18,3 miliar untuk renovasi taman dan penambahan kali mati. Namun nampak kali mati di taman tersebut kondisinya sangat kotor. Air kali mati nampak berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau tak sedap. Sampah plastik juga nampak berserakan di sepanjang kawasan kali mati.

Bahkan, sejumlah pengunjung yang memadati taman mengeluhkan dengan adanya kondisi kali mati. Padahal kali mati di kawasan tersebut merupakan ikon taman kota. Salah satu pengunjung, Umar (45 tahun) mengatakan kali mati tersebut mengeluarkan bau tak sedap. Dirinya pun mengkhawatirkan sejumlah penyakit akan muncul dari kali tersebut.

“Taman ini bagus, cuma air kali mati itu kayaknya ga mengalir, airnya tertahan di situ (bawah jembatan) dan airnya seperti air selokan,” katanya, Selasa (11/2).

Dirinya melanjutkan, taman kota hutan Jombang telah menarik sejumlah wisatawan dengan sejumlah fasilitasnya yang lengkap. Namun saat dirinya mengunjungi taman kota tersebut nampak dalam kondisi berantakan seperti tidak terurus.

“Ini kan taman baru, padahal baru di buka, semoga untuk kedepannya ada petugas kebersihan yang berjaga disini, agar kondisi taman terurus dan bisa dinikmati oleh masyarakat,” katanya

Salah satu pengunjung lain bernama Iwan (43 tahun) mengeluhkan kondisi kali mati yang kotor. Dirinya pun menyayangkan meskipun secara keseluruhan taman kota bagus dan dapat dinikmati, kondisi kali mati itu mengurangi keindahan.

“Sayang ya, awal masuk sudah disambut bau selokan. Untuk keseluruhan buat foto-foto padahal bagus tapi gara-gara kondisi kali mati seperti tidak terurus itu mengurangi keindahan taman kota,” jelasnya.

Lebih lanjut, kata Iwan, sebelumnya diberitakan kali mati disitu sebagai saluran air yang membuat warga bisa memanfaatkan untuk destinasi. Tetapi, kondisi ketika di lapangan tidak sesuai dengan pemberitaan.

Dari pantauan Republika, ditemukan sampah berserakan di sekitar taman kota hutan Jombang. Sejumlah tempat sampah juga disediakan, namun kondisinya dalam keadaan penuh hingga sampah menumpuk dan tumpah.

Adapun untuk petugas kebersihan juga belum tersedia di taman kota itu. Rencananya selama enam bulan pertama petugas kebersihan akan disiapkan oleh Dinas PU, namun dari pantauan tidak ada petugas yang berjaga.

Di samping itu, terdapat batu prasasti peresmian taman kota pada tahun 2013 dengan ditanda tangani Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany. Adapun batu prasasti peresmian pada Minggu lalu 9 Februari 2020 yang seharusnya terletak di samping batu peresmian pertama, nampak tidak ada.

Kepala Dinas PU Aries Kurniawan mengatakan sekitar 5.800 meter persegi itu disiapkan untuk kali mati. Kali mati sudah lama tidak berfungsi, dan menjadi tempat air menggenang. Sebab kali mati tersebut merupakan tempat pembuangan air dari jalanan dan sekitar wilayah tersebut.

“Kali mati itu kita bangun agar dapat difungsikan sebagai penampung air hujan agar bisa kesitu, juga bisa sebagai penanggulangan banjir, kali mati tersebut juga bisa dijadikan sebagai kawasan yang bisa digunakan destinasi, itu sebetulnya air mengalir ke Kali Angke,” katanya di Kantor Dinas Pekerjaan Umum, Setu, Tangsel.

Lebih lanjut, kata Aries taman kota itu sebagai tempat ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat. Sebab taman kota itu diperuntukkan sebagai paru-paru kota Tangsel.

Sementara, memasuki taman kota hutan Jombang pengunjung dikenakan tarif sebesar tiga ribu rupiah. Pengunjung bisa menikmati sejumlah fasilitas yang tersedia seperti rumah pohon yang melewati jembatan gantung, fitnes outdoor, tempat bermain anak, tempat kumpul keluarga dan spot-spot untuk swafoto.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement