Selasa 11 Feb 2020 20:40 WIB

BBN Muba Masuk Tiga Produk Super Prioritas Inovasi Indonesia

Produksi BBN akan dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM.

Rep: Maman Sudiaman/ Red: Agus Yulianto
Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan. Kabupaten Muba sangat serius untuk realisasi BBN yang merupakan inovasi pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati.
Foto: Humas Pemkab Muba
Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan. Kabupaten Muba sangat serius untuk realisasi BBN yang merupakan inovasi pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati.

REPUBLIKA.CO.ID, SEKAYU -- Produk inovasi Bahan Bakar Nabati (BBN) yang berasal dari minyak kelapa sawit dan akan dihasilkan dari Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), kini masuk dalam dalam tiga produk inovasi Indonesia atau produksi dalam negeri. Produk ini menjadi program super prioritas yang akan dikembangkan pemerintah bekerja sama bersama dunia usaha.

Kabar gembira tersebut telah dilansir berdasarkan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro ke media massa berdasarkan hasil dari Ratas (Rapat Terbatas) Kabinet yang memutuskan 3 program super prioritas nasional yakni tiga produk super prioritas inovasi adalah inovasi katalis, garam dan drone.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Pemerintah Kabupaten Muba Herryandi Sinulingga membenarkan informasi tersebut. Menristek sudah melansir ke publik tentang BBN dari Muba masuk dalam tiga produk super prioritas. “Informasi tengang itu ada di website Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi,” katanya.

photo
Pekerja mengangkut kelapa sawit kedalam truk di Perkebunan sawit.

Mengutip pernyataan Menristek/Kepala BRIN bahwa produksi bahan bakar nabati atau sering disebut green fuel atau bahan bakar hijau, adalah temuan dalam bentuk katalis, yang disebut katalis merah putih. Katalis merah putih ditemukan tim yang dipimpin Prof Subagyo dari ITB yang mengubah minyak inti sawit dengan menghasilkan tiga jenis bahan bakar, yaitu bensin, minyak diesel, dan avtur yang semuanya nabati berasal dari kelapa sawit.

Menurut Menristek Bambang Brodjonegoro, karena katalisnya sudah ditemukan, maka tahapan berikutnya sudah diberikan prioritas oleh Presiden Joko Widodo dan didukung Kementerian BUMN serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit. Selain itu, akan mulai dibangun pabrik minyak nabati industri untuk menghasilkan minyak inti sawit dari perkebunan.

“Kita akan menggunakan dua pilot di dua yaitu di Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatera Selatan dan di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau,” ujar Menristek/ Kepala BRIN.

Sebelumnya rapat terbatas Kabinet Kerja Kamis, 6 Februari 2020 lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan tiga prioritas inovasi kepada Menristek Bambang Brodjonegoro dan memerintahkan menteri atau pejabat dari lembaga terkait untuk bisa mendukung tiga prioritas utama itu. 

Presiden telah memutuskan ada tiga yang super prioritas inovasi produksi dalam negeri, pertama, katalis yang mengubah minyak inti sawit menjadi bahan bakar nabati. Kedua industri garam yang terintegrasi, dan ketiga penyelesaian prototipe maupun produksi dari drone combatan elang hitam. 

Untuk merealisasikan berdirinya pembangunan BBN dari Industrial Vegetable Oil (IVO) dan Crude Palm Oil (CPO), Bupati Muba Dodi Reza Alex telah bertemu dan menyampaikan rencana tersebut kepada Menristek Bambang Brodjonegoro.

Pada pertemuan tersebut Menristek/Kepala BRIN mengatakan, penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar akan memberikan banyak manfaat. Pertama, akan menekan impor BBM dan kedua bisa menjaga harga komoditas kelapa sawit karena akan terserap oleh pasar dalam negeri. Kami berkeyakinan Musi Banyuasin akan siap dalam realisasinya nanti. BBN adalah suatu terobosan penemuan yang luar biasa, sebagai pengganti BBM.”

Menurut Menristek, akan ada dua pola yang ditawarkan dalam upaya realisasi dan dukungan BBN, yaitu menggunakan sistem pola investor dan BUMN.  “Kita nanti akan berkoordinasi dengan Menteri BUMN untuk menugaskan BUMN atau investor yang bergerak di bidang pengolahan bahan baku (kelapa sawit red.) di Muba,” katanya.

Sementara itu Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan. Kabupaten Muba sangat serius untuk realisasi BBN yang merupakan inovasi pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati. Bahkan, untuk pembangunan pabrik IVO dan CPO Muba menggandeng ITB. "Alhamdulillah saat ini feasibility studi sudah selesai. Insya Allah 2021 sudah mulai berjalan,” ujarnya.

Menurut Dodi yang juga Ketua KADIN Sumsel, Kabupaten Muba juga telah melakukan program peremajaan perkebunan sawit berkelanjutan (sustainable) milik kebun rakyat yang saat ini sudah puluhan ribu hektar lahan yang sudah diremajakan.

“Pembangunan pabrik dan realisasi BBN ini merupakan kelanjutan dari program peremajaan perkebunan sawit milik rakyat. Jadi program ini benar-benar berkelanjutan,” kata kepala daerah yang meraih gelar doktor administrasi publik dari Fisip Unpad pekan lalu.

Dodi juga memaparkan, produksi BBN akan dapat mengurangi ketergantungan terhadap BBM dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sawit. “Program ini juga merupakan keinginan bapak Presiden Joko Widodo dan tentu sangat selaras dengan cita-cita kami warga Muba yang mana mayoritas petani sawit,” ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement