Sabtu 08 Feb 2020 22:34 WIB

Mulfachri tak Punya Mimpi Jadi Capres atau Cawapres 2024

Mulfachri Harahap hari ini mendaftarkan diri menjadi caketum PAN.

Politikus PAN, Mulfachri Harahap. (ilustrasi)
Foto: DPR
Politikus PAN, Mulfachri Harahap. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Mulfachri Harahap enggan menjadi calon presiden atau calon wakil presiden pada Pemilu 2024. Meski, jika nantinya ia terpilih sebagai Ketua Umum PAN periode 2020—2025 pada Kongres V PAN di Kendari, mulai 10 hingga 12 Februari 2020.

"Saya tidak akan atau tidak punya mimpi sebagai capres atau cawapres. Saya tidak punya mimpi untuk itu," kata Mulfachri kepada awak media saat mendaftar sebagai caketum PAN di Sekretariat DPP PAN, Jakarta, Sabtu (8/2).

Baca Juga

Politikus yang saat ini Wakil Ketua Komisi III DPR RI itu memastikan dirinya lebih memilih untuk fokus melakukan pada konsolidasi intern dan membenahi partai. "Apa yang saya lakukan jika jadi Ketua Umum PAN? Saya akan lakukan konsolidasi secara masif," katanya menegaskan.

Oleh karena itu, Mulfachri menekankan, bahwa dirinya akan punya waktu yang sangat cukup untuk bekerja demi kemajuan partai dan kaderisasi yang optimal. "Insyaallah, saya punya waktu cukup untuk bekerja untuk kepentingan partai, melakukan konsolidasi, melakukan pelatihan agar partai yang sejatinya organisasi kader kembali kejati dirinya," katanya menandaskan.

 

Beberapa pengurus PAN hadir menemani Mulfachri dalam pendaftaran Caketum PAN itu, di antaranya politkus PAN Chandra Tirta Wijaya. Mereka diterima oleh Sekretaris Panitia Pengarah (Steering Committee/SC) Kongres V PAN Saleh Partaonan Daulay.

Sebelumnya, pada Pemilu 2019 PAN perolehan kursi DPR RI menurun. Pengurus dan kader partai pun sempat prihatin, di antaranya seperti yang diakui oleh Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN Noviantika Nasution.

Noviantika mengaku sedih dengan perolehan suara partai yang kian menurun pada masa kepemimpinan Ketua Umum Petahana Zulkifli Hasan (Zulhas). “Sedih. Enggak ada kader yang bersedih atau prihatin kalau perolehan partainya menurun,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (18/1).

Partai yang berdiri pasca-Reformasi itu hanya mendapat urutan kedelapan dari sembilan partai politik yang lolos ke Senayan. PAN mendapat 44 kursi pada Pemilu 2019 atau menurun empat kursi dari periode sebelumnya.

Noviantika menyebutkan ada beberapa faktor penyebab kursi PAN menurun, salah satunya karena kesalahan dalam manajerial partai.

“Kalau DPP melakukan proses tata kelola yang baik, tentu ke bawahnya akan baik juga,” katanya menegaskan.

Oleh karena itu, Noviantika memandang perlu Ketum PAN memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan sosok yang memiliki kapasitas mumpuni. “Itu diperlukan agar kursi PAN tidak lagi menurun,” kata Noviantika.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement