Senin 03 Feb 2020 10:48 WIB

Pemkab Kulon Progo Gencarkan Rehabilitasi Irigasi

Kulon Progo menggencarkan program rehabilitasi jaringan irigasi tersier

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Kulon Progo menggencarkan program rehabilitasi jaringan irigasi tersier untuk meningkatkan indeks tanam. Ilustrasi
Kulon Progo menggencarkan program rehabilitasi jaringan irigasi tersier untuk meningkatkan indeks tanam. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KULON PROGO -- Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo menggencarkan program rehabilitasi jaringan irigasi tersier untuk meningkatkan indeks tanam. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Aris Nugraha mengatakan pada tahun ini program rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) bisa menyasar lahan seluas 500 hektare yang tersebar di 12 kecamatan.

"Nanti setiap hektare perkelompok tani akan mendapat stimulan sebesar Rp 1,1 juta, tinggal dikalikan saja berapa stimulan yang diterima," katanya di Kulon Progo, Senin.

Baca Juga

Ia mengatakan sasaran program RJITyakni membangun jaringan irigasi tersier yang telah rusak. Kelompok tani di 12 kecamatan yang dipilih mengikuti program ini akan mendapat bantuan dana untuk perbaikan jaringan tersier di masing-masing lahan persawahan yang mereka kelola.

"Sistemnya swakelola, artinya petani yang akan membeli bahan material sendiri dengan dana stimulan dari pemerintah," jelas Aris.

Aris mengatakan program RJIT sedang gencar dilakukan oleh pemerintah karena hasilnya sangat dirasakan oleh para petani. "Efek yang langsung dirasakan petani adalah bertambahnya indeks tanam yang tadinya hanya bisa sekali setahun menjadi dua kali atau lebih. Ke depan diharapkan tidak ada lagi kendala soal pengairan," harapnya.

Untuk cakupan Indonesia, RJIT pada 2020 dicanangkan seluas 135.600 hektare di 32 provinsi dan lebih dari 300 kabupaten/kota. Program RJIT diutamakan pada lokasi yang telah dilakukan SID dan daerah irigasi yang saluran primer dan sekundernya dalam kondisi baik.

Anggota Komisi II DPRD Kulon Progo Priyo Santoso mengakui bahwa sektor pertanian merupakan penggerak ekonomi masyarakat. Dengan demikian pemkab harus membangun infrastruktur yang memadai untuk mewujudkan ketahanan pangan di Kulon Progo.

Ia mengatakan proyek pembangunan di Kulon Progo berdampak pada tingginya alih fungsi lahan sehingga dinas harus meningkatkan indeks tanam. Ini bertujuan supaya total produksi setiap tahunnya tidak menurun.

"Solusi masalah alih fungsi lahan adalah cetak sawah baru dan meningkatkan indeks tanam sehingga dinas harus berani cetak sawah baru dan memperbaiki jaringan irigasi," ujar Priyo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement