Kamis 16 Jan 2020 17:30 WIB

'Pemerintah Harus Punya Pemilahan dan Pengolahan Sampah'

Tidak adanya pengolahan sampah yang baik menyebabkan TPA Piyungan menjadi overload.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Antre Kendaraan Pembuangan Sampah. Kendaraan pengangkut sampah antre menunggu giliran membuang sampah di TPST Piyungan, Yogyakarta, Rabu (7/1).
Foto: Republika/ Wihdan
Antre Kendaraan Pembuangan Sampah. Kendaraan pengangkut sampah antre menunggu giliran membuang sampah di TPST Piyungan, Yogyakarta, Rabu (7/1).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Peneliti Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (PSL-USD), Sulistyono mengatakan, harus dilakukan upaya untuk menyelesaikan overload atau kelebihan kapasitan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bantul, saat ini. Menurutnya, selama ini sampah yang ada di TPA Piyungan hanya ditumpuk dan tidak ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. 

"Pemerintah (baik kabupaten maupun kota di DIY) harus punya pemilahan dan pengolahan sampah sendiri," katanya belum lama ini. 

TPA Piyungan menerima sampah dari tiga daerah di DIY. Yakni Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. 

Ia mengatakan, tidak adanya pemilahan dan pengolahan sampah  yang baik selama ini yang menyebabkan TPA Piyungan menjadi overload. Padahal, dua upaya ini sangat berpengaruh untuk mengurangi overload di Piyungan. Bahkan, produksi sampah dari masing-masing daerah dapat diminimalisasi. 

"Masalahnya (sampah) hanya sekadar ditumpuk. Jadi tidak ada upaya untuk dibuat menjadi produk lain. Misalnya menjadi kompos kalau itu organik. Kalau non-organik itu bisa dipilah. Plastik misalnya bisa dikumpulkan bisa diolah menjadi biji plastik," jelasnya. 

Namun, untuk pemilahan dan pengolahan ini tentunya menjadi kewenangan masing-masing kabupaten dan kota di DIY. Untuk itu, ia menyarankan agar pemerintah kabupaten dan kota untuk memilah dan mengolah sampahnya sendiri. 

Sebab, saat ini belum ada upaya dari masing-masing kabupaten dan kota yang menyalurkan sampahnya di TPA Piyungan untuk melakukan upaya lebih. Sehingga, sampah terus menumpuk di Piyungan hingga akhirnya overload selama bertahun-tahun

"Sampahnya juga berasal dari penduduk lokalnya. Pernah kejadian Piyungan diblokir karena sampahnya berasal dari luar dan sampah sudah terlalu banyak. Tidak tahu yang harus dilakukan dan hanya sekadar ditumpuk. Upaya seperti itu belum ada, sehingga semakin banyak jumlahnya," ujarnya. 

Jika dibiarkan terus-menerus dan tidak ada solusi yang dilakukan, kata Sulistyono, akan berdampak bagi lingkungan sekitar TPA Piyungan itu sendiri. Menurutnya, dapat terjadi pencemaran lingkungan yang mana resapan sampah yang masuk ke sistem air dalam tanah dapat menyebabkan pencemaran air. 

"Dulu juga pernah kejadian di (TPST) Bantar Gebang sampai meledak karena gas metan yang menumpuk di situ tidak bisa keluar. Sehingga seperti ledakan besar," jelasnya. 

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Sutarto mengatakan, overload di TPA Piyungan sendiri sudah sejak 2014 lalu. Menurutnya, sampah yang diterima TP Piyungan mencapai 580 ton per harinya. 

TPA Piyungan sendiri menampung sampah dari tiga daerah di DIY. Yakni Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. 

"Hari-hari biasanya (sampah yang masuk) 560 sampai 580 ton per hari. Di samping karena jumlahnya lebih besar, memang beratnya sampah itu karena musim hujam yang juga besar," kata Sutarto kepada Republika, belum lama ini. 

Sementara, pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), sampah melebihi hari biasa. Bahkan, yang masuk ke TPA Piyungan mencapai 610 ton per harinya atau naik sekitar 12 persen. 

"Itu Bulan Desember karena puncaknya Nataru itu ada di Desember," jelasnya. 

Saat ini pun, pihaknya memaksimalkan lahan yang ada di TPA Piyungan tersebut. "Memang sebenarnya overload sudah sejak 2014. Tapi kami sebagai penanggung jawab pengelola sampah yang ada di sana, berusaha semaksimal mungkin untuk membuat ruang-ruang yang masih memungkinkan untuk bisa dibuangi sampah," tambahnya. 

Selain membuat ruang yang masih memungkinkan, sampah yang menggunung juga diratakan. Sehingga, dapat memberi ruang yang lebih besar untuk penampungan sampah di TPA Piyungan. 

"Kami berusaha semaksimal mungkin, sampah-sampah yang lebih banyak terkonsentrasi di tempat tertentu itu kemudian kami ratakan istilahnya. Kami dorong dan kemudian mencari celah untuk pembuangan sampah di bulan-bulan berikutnya," ujarnya

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement