Jumat 27 Dec 2019 23:35 WIB

2020, PR Kian Masif Manfaatkan Teknologi Analisis Data

Pelibatan Artificial Intelligence (AI) dalam pekerjaan komunikasi makin marak.

Rep: Gumanti Awaliyah, Santi Sopia/ Red: Ratna Puspita
Big data (Ilustrasi). Praktik Kehumasan atau Public Relations (PR) di Indonesia pada 2020 diproyeksikan akan semakin intensif memanfaatkan teknologi pengelolaan dan analisis data.
Foto: Pixabay
Big data (Ilustrasi). Praktik Kehumasan atau Public Relations (PR) di Indonesia pada 2020 diproyeksikan akan semakin intensif memanfaatkan teknologi pengelolaan dan analisis data.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Praktik Kehumasan atau Public Relations (PR) di Indonesia pada 2020 diproyeksikan akan semakin intensif memanfaatkan teknologi pengelolaan dan analisis data sebagai basis untuk merumuskan strategi yang lebih cerdas. Selain itu, analisis data digunakan untuk membangun kampanye yang lebih fokus dan menyasar kelompok publik secara lebih tepat.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) Jojo S Nugroho mengatakan tren yang berlaku saat ini sebenarnya telah mengarah ke skenario kerja yang mencakup cara-cara lintas digital. USC Annenberg Center for Public Relations melalui 2019 Global Communications Report memprediksi ke depannya, teknologi akan digunakan lebih banyak oleh Humas untuk melakukan social listening, analisa kinerja website, dan manajemen media sosial.

Baca Juga

“Pelibatan Artificial Intelligence (AI) dalam pekerjaan komunikasi dan pemasaran di seluruh dunia semakin marak setahun belakangan ini. Indonesia diprediksi akan semakin piawai menggunakan potensi AI tersebut untuk menjalankan intelijen bisnis dan pasar, melakukan diseminasi informasi, serta merencanakan marketing PR,” kata Nugroho melalui pesan tertulis, Kamis (26/12).

Konsekuensi dari hal tersebut adalah semakin terintegrasinya pekerjaan Humas dengan pekerjaan pemasaran dan penjualan. Hal ini untuk menjawab tantangan di dua tataran sekaligus yaitu korporasi dan pasar konsumen.

Ia meyakini intelijen bisnis yang lebih matang akan membantu perusahaan atau organisasi untuk menempatkan dirinya dengan lebih baik di tengah dinamika isu sosial. “Praktisi Humas harus mengembangkan kemampuan menerjemahkan data menjadi strategi dan aksi," ujar dia.

"Dengan menggunakan AI, Humas dapat memberi masukan terhadap kebijakan, membantu keputusan-keputusan penting yang perlu diambil perusahaan, dan mendorong perubahan perilaku secara lebih tepat. Hal ini melampaui pembentukan kesadaran dan preferensi yang umumnya menjadi ranah Humas selama ini,” jelas Jojo.

Meski teknologi data digital semakin dibutuhkan, keahlian dan keterampilan dasar kerja Humas dalam hal hubungan antar manusia tetap tidak dapat ditinggalkan. Antara lain kecerdasan dan kebijaksanaan seorang praktisi Humas tidaklah tergantikan oleh teknologi. 

Jojo juga menegaskan 2020 merupakan tahun bagi kolaborasi yang lebih erat. Setiap agensi menawarkan sesuatu yang berbeda, tetapi hampir mustahil bagi satu agensi untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal. 

APPRI juga memprediksikan agensi yang berskala boutique akan semakin diminati karena sifatnya yang fleksibel, adaptif, kreatif, komunikatif dan kompetitif, serta berkualitas dalam merespon kebutuhan klien.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi