Selasa 24 Dec 2019 12:34 WIB

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem Terjadi di Sumbar

Monsun Asia menyebabkan peningkatan massa udara basah di Sumbar.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Nur Aini
Peserta mengikuti Rapat Koordinasi Pengurangan Risiko Bencana Banjir Bandang di Padang, Sumatera Barat, Senin (23/12/2019).
Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Peserta mengikuti Rapat Koordinasi Pengurangan Risiko Bencana Banjir Bandang di Padang, Sumatera Barat, Senin (23/12/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati mengatakan Sumatra Barat (Sumbar) dalam dua bulan terakhir dilanda bencana bertubi-tubi karena distribusi curah hujan yang cukup signifikan. Penyebabnya menurut Dwikorita karena adanya faktor dinamika atmosfer skala regional dan lokal terkini yakni Monsun Asia yang menyebabkan peningkatan massa udara basah.

"Itu membentuk pola konvergensi, perlambatan, dan belokan angin di beberapa wilayah, suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia yang masih hangat dan mendukung pertumbuhan awan-awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia," kata Dwikorita, Senin (23/12) di Padang.

Baca Juga

Dwikorita mengimbau kepada seluruh masyarakat Sumbar agar waspada dengan potensi cuaca ekstrem. Ia memprediksi cuaca ekstrem masih akan berlangsung sampai April 2020 mendatang.

Dwikorita mengaku BMKG telah berperan aktif dalam mendukung pengurangan risiko bencana di Sumbar. Mereka menempatkan 5 Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang aktif menyampaikan informasi tentang meteorologi, klimatologi, kualitas udara dan geofisika (MKKuG).

Pada 2019, kata Dwikorita, BMKG menempatkan menempatkan 50 unit Earthquake Early Warning System (EEWS) yang ditempatkan 10 unit di sekitar Kepulauan Mentawai yang merupakan jalur megathrust dan 40 unit di Wilayah kabupaten pesisir Sumatera Barat seperti di Pesisir Selatan, Padang, Pariaman, Padang Pariaman, Agam dan Pasaman Barat.

"Kami harap penempatan EEWS ini dapat meningkatkan dan mendukung upaya kesiapsiagaan," ucap Dwikorita. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement