Jumat 20 Dec 2019 21:03 WIB

Asa Penyintas Kanker di Akses Pengobatan

Banyak penyintas kanker memiliki harapan untuk bisa sembuh dari penyakit mematikan.

Penyintas kanker, Nur (32 tahun) bersama ayahnya, Karna, sebagai pendamping ketika hendak terapi kemo di RS Dharmais, Jakarta.
Foto: Republika/Zainur Mahsir Ramadhan
Penyintas kanker, Nur (32 tahun) bersama ayahnya, Karna, sebagai pendamping ketika hendak terapi kemo di RS Dharmais, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Zainur Mahsir Ramadhan

Nur Asiah (32 tahun), ingat betul ketika ia didagnosis menderita kanker payudara stadium lanjut sejak dua tahun yang lalu. Ia mengaku kabar tersebut tidak hanya mengguncangnya, tetapi juga keluarga dan para tetangga di Banten.

Pekerjaan ayah dan keluarganya sebagai petani, tentu tak berpenghasilan cukup untuk membawanya berobat ke luar negeri. Namun, dorongan untuk sembuh dari banyak pihak, semakin menguatkannya untuk mencari akses pengobatan di Tanah Air.

Dia mengaku, sejak awal bantuan dari warga deras mengalir. Jumlah itu ia nilai cukup untuk beberapa waktu, apalagi karena pengobatan awal yang belum dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Dharmais, Jakarta, selaku Pusat kanker di Indonesia.

Aral melintang, biaya pengobatan dan kebutuhan hidup semakin melambung, hingga akhirnya keluarga harus meminjam sejumlah uang ke bank. “Saya sudah tidak menikah, jadi bapak yang temani saya. Beliau juga dorong agar saya berobat, biar sembuh, sampai pinjam uang juga ke bank,” ujar dia ketika ditemui Republika, di Rumah Singgah penyintas kanker belum lama ini.

Dengan BPJS kelas tiganya, ia mulai dirujuk ke RS Dharmais pada Ramadhan 2019 lalu. Bingung, itu awal reaksinya karena biaya hidup dan sebagian obat yang tak ditanggung BPJS.

Meski demikian, ia masih merasa beruntung karena ada pihak yang mengundangnya untuk tinggal di Rumah Singgah (rumah khusus penyintas kanker), setelah rujukan pertamanya di RS Dharmais. Bersama sang ayah, Karna sebagai pendamping, ia mulai mencari asa untuk pulang ke Banten dengan sembuh.

Sudah hampir delapan bulan ia tinggal rumah singgah itu. Dengan 10 penyintas kanker dan 10 pendampingnya, harapan kuat untuk sembuh ia rasa semakin kuat. Buktinya, tak pernah absen ia berobat dari Senin hingga Jumat ke RS Dharmais yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari rumah singgah.

Ketika Republika mengunjungi rumah yang berlokasi di Jl. Anggrek Neli Murni 2 Blok C RT/RW 009/01, Palmerah, Jakarta Barat itu, kedekatan setiap penyintas dan pendamping mulai tampak dari pagar terasnya. Suasana hangat di ruang tamu, terasa jelas ketika Nur bercengkrama dengan penyintas kanker lainnya, Ami asal Subang (42) dan Tri asal Bangka yang baru tinggal dua hari di rumah tersebut.

“Selamat ulang tahun Tri,” ujar Ami dan Nur beserta yang lainnya ketika kaget bahwa hari itu Tri tepat berumur 38 tahun.

 

Keluhan pengobatan

Sabtu (7/12) sore sekira pukul 15.30 WIB, di luar baru saja hujan, bau khasnya tercium ke dalam ruang tamu berukuran 4x5 meter itu. Sekira sejam, kami telah berbincang banyak terkait kendala akses pengobatan hingga kebutuhan hidup di Jakarta, hingga akhirnya satu per satu dari delapan orang di ruang itu kembali beristirahat.

“Kami istirahat enggak teratur, karena enggak bisa dipaksakan,” ujar Nur sembari mohon diri.

Menurut Ami, dimungkinkan itu karena efek pengobatan terapi kanker yang mereka jalani. Bahkan, mereka mengakui ada banyak efek dalam pengobatan kankernya. Yang paling kentara dirasa adalah ingatan yang semakin kabur.

“Saya pikir itu cuman saya, tapi ternyata yang lain juga ngerasa sama,” ujar Tri mengomentari pernyataan Ami.

Berdasarkan pengalaman Ami dan Nur yang telah melaksanakan berbagai obat dan terapi kemo, ada cukup banyak efek yang dirasa, mulai dari kantuk hingga ingatan yang kabur. Keduanya menilai, pengobatan dan kemoterapi yang dijalani dirasa memang cukup baik. Meski proses pertumbuhan sel kanker, masih dirasa menyebar ke beberapa bagian tubuh.

“Nur tadi sudah nyebar sel kankernya ke lengan, makanya tadi otot lengan kanannya diperban. Kalau saya sudah nyebar ke kaki, jadi sekarang sulit berjalan,” ujar Ami dari kursi rodanya.

Kepada Republika mereka memaparkan, pengobatan kemoterapi dan targeted menjadi yang paling banyak dilakukan penyintas kanker. Sebab, hal tersebut menjadi pengobatan yang disarankan pihak rumah sakit setelah melalui berbagai tes uji pengantar.

Selain itu, setiap penyintas kanker di Dharmais, selalu rutin menjalani perawatan sinar laser setiap Senin hingga Jumat. Sedangkan terapi kanker seperti Kemo, dilakukan setiap tiga pekan sekali.

Nur dan beberapa pasien lainnya di rumah singgah, hanya beberapa dari 58.256 orang penyintas kanker payudara di Indonesia. Kanker tersebut menjadi kanker dengan penderita terbanyak di Indonesia.

Disusul oleh kanker paru yang mayoritasnya lelaki,dengan jumlah pada 2018 lalu mencapai 22.440 jiwa. Secara umum, mengutip data dari Globocan ada sekitar 348.809 penyintas kanker pada 2018 lalu di Indonesia. Di mana jumlah kematian akibatkanker di Indonesia mencapai lebih dari 207 ribu kasus.

Jika mematok pada populasi Indonesia yang mencapai 266 juta jiwa, tentu angka tersebut dinilai masih terlalu tinggi. Karena itu, masyarakat dan pihak kesehatan masih menuntut adanya prosedur pengobatan yang jelas dan bisa diakses.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement