Senin 16 Dec 2019 04:03 WIB

Pengamat Pesimistis Soal Jalur Pedestrian Jalan Sudirman

Pengamat pesimistis soal penataan jalur pedestrian Jenderal Sudirman Yogyakarta

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Christiyaningsih
Pengamat pesimistis soal penataan jalur pedestrian Jenderal Sudirman Yogyakarta. (ilustrasi)
Foto: Republika/Yasin Habibi
Pengamat pesimistis soal penataan jalur pedestrian Jenderal Sudirman Yogyakarta. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pengamat tata kota dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ikaputra, pesimistis jalur pedestrian di Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta dapat mengurangi beban Malioboro. Sebab, penataan yang dilakukan belum mengedepankan aspek yang membuat masyarakat menggunakan jalan tersebut.

Menurutnya, penataan yang dilakukan tidak menampilkan keunikan dari jalan tersebut. Terlebih, penataan jalur pedestrian ini akan dilanjutkan ke arah barat pada 2020 dengan konsep yang sama yakni mulai dari Gondolayu, Tugu, hingga ke Jalan Pangeran Diponegoro.

Baca Juga

"Kalau konsepnya sama, orang berjalan itu akan membosankan. Hal yang harus diketahui adalah karakter masing-masing jalan itu beda. Keunikan itu yang harus ditampilkan," ujarnya kepada Republika akhir pekan ini.

Untuk itu, Pemkot Yogyakarta harus merespons hal tersebut sehingga penataan jalur pedestrian ini tidak seperti sebelumnya yang terjadi di Jalan Suroto, Kotabaru.   "Contoh sekarang itu Kotabaru yang jalan utama (Jalan Suroto) itu. Itu sudah bagus sekali, tapi kenapa orang tidak pernah jalan kaki," ujarnya.

Untuk itu, penataan jalur pedestrian yang akan diteruskan di 2020 nanti harus menampilkan karakter dari masing-masing jalan. Dengan demikian dapat membuat masyarakat mau berjalan kaki dan tentunya mengurangi beban dari Malioboro.

"Dia (Pemkot Yogya) harus merespons tiap penggalan jalan yang unik dan berbeda itu dengan rancangan atau desain yang baik, yang menunjukkan perbedaannya dan menyebabkan orang jalan," katanya.

Sebelumya Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan penataan jalur pedestrian di Jalan Jenderal Sudirman dinilai dapat mengurangi beban Malioboro. Penataan di jalan ini dilakukan dengan salah satu tujuannya untuk menjadikan Jalan Sudirman sebagai pusat entitas Kota Yogyakarta.

"Kawasan ini kita tergetkan mengurangi antara lima sampai delapan persen (beban Malioboro)," katanya belum lama ini.

Penataan sudah hampir rampung dan ditargetkan selesai pada 22 Desember 2019. Selain itu, pekerjaan ducting atau penataan kabel fiber optic (FO) dengan membuat saluran khusus untuk kabel bawah tanah juga sudah hampir rampung.

Haryadi pun menargetkan 2020 sebagai tahun pembenahan infrastruktur Yogyakarta. Sebab, penataan dan ducting akan terus dilanjutkan ke arah barat pada 2020 yakni dari Gondolayu, Tugu, hingga ke Jalan Pangeran Diponegoro.

"Tugu saya rasa tahun depan sudah turun (kabel-kabel FO) sehingga tugu nanti akan semakin indah karena tidak terganggu oleh kabel yang masih malang melintang di udara," tambahnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement