Selasa 17 Sep 2019 05:02 WIB

Warga Pekanbaru yang Terbiasa Bertemu Asap

Warga harap pemerintah bisa tuntaskan masalah asap yang sudah bertahun-tahun.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Indira Rezkisari
Polwan yang mengalami gangguan pernapasan menghirup oksigen portabel di Posko Kesehatan Siaga Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Senin (16/9/2019).
Foto: Antara/Rony Muharrman
Polwan yang mengalami gangguan pernapasan menghirup oksigen portabel di Posko Kesehatan Siaga Kabut Asap di Pekanbaru, Riau, Senin (16/9/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Satu bulan terakhir, kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru. Kondisi lebih parah dirasakan warga selama 10 hari belakangan. Bahkan pemerintah telah meliburkan sekolah dan kampus-kampus demi meminimalisir jatuhnya korban dampak bencana kabut asap.

Babe (59 tahun) seorang pedagang kaki lima di Jalan Gatot Subroto, Pekanbaru, tetap beraktivitas seperti biasa menjual aneka minuman, makanan ringan dan rokok.

Baca Juga

Babe tidak peduli dengan udara dicampuri kabut asap. Ia mengatakan sudah terlalu biasa dengan bencana kabut asap sejak puluhan tahun menjadi warga Pekanbaru.

"Kabut asap yang begini saya tidak heran. Karena lahan-lahan itu dibakar, bukan terbakar. Yang bakar siapa? ya pengusaha," kata Babe saat berbincang dengan Republika, Senin (16/9).

Walau bekerja sebagai pedagang, Babe tetap mengikuti perkembangan pemberitaan untuk cakupan Riau dan nasional. Babe merasa pemerintah baik tingkat daerah sampai pusat telah gagal menangani bencana akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ia menilai pemerintah seperti tidak belajar dari serangkaian bencana kabut asap yang telah pernah terjadi di Riau dan di daerah Indonesia lainnya.

"Memang ada pembiaran. Siapa yang mau menyelamatkan nasib kita yang menghirup kabut asap ini. Pemerintahnya lebih peduli sama pengusaha yang nanam duit banyak. Lah kita bisa apa. Ya hirup saja asap ini," ujar Babe.

Rian (20) tahun seorang karyawan satpam di Komplek Paus di Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru, juga resah kabut asap di daerahnya tak kunjung reda. Rian sendiri mengaku cukup kuat untuk bekerja di luar ruangan. Baginya memakai masker sudah cukup melindungi diri dari serangan kabut asap.

Tapi Rian mengkhawatirkan kondisi orang tuanya yang punya riwayat asma. Jadi setiap hari, Rian terpaksa bolak balik ke rumah dari tempat kerja untuk mengantarkan keperluan orang tuanya. Rian tidak ingin orang tuanya keluar rumah agar tidak terpapar asap. Karena ibunya sensitif terhadap asap.

"Biar ibu saya tidak keluar dari rumah, jadi apa-apa yang dia perlu saya yang beli atau carikan," ujar Rian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement