Ahad 04 Aug 2019 14:35 WIB

BPBD Minta Warga Cilacap tak Mudah Terpancing Hoaks

Pernyataan BPBD menyusul ketakutan warga pascagempa bumi di selatan Banten.

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Gita Amanda
Sebanyak 2 SSK prajurit Korem 064 Maulana Yusuf Banten diterjunkan ke lokasi gempa bumi 7,4 SR.
Foto: dok. Pendam Siliwangi
Sebanyak 2 SSK prajurit Korem 064 Maulana Yusuf Banten diterjunkan ke lokasi gempa bumi 7,4 SR.

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, meminta masyarakat di wilayahnya tidak mudah terpancing hoaks. BPBD mengeluarkan pernyataan itu, menyusul ketakutan warga pascagempa bumi di selatan Banteng yang terjadi Jumat (2/8) malam.

''Setelah terjadi gempa, memang cukup banyak warga yang mengungsi ke tempat lain yang dinilai aman. Mereka takut gempa besar merembet ke Cilacap, dan menimbulkan tsunami,'' jelas Kepala BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhi, Sabtu (3/8) lalu.

Baca Juga

Harapan agar warga Cilacap tidak mudah terpancing hoaks cukup beralasan, karena pada sebulan terakhir terjadi dua kali pengungsian yang dilakukan sebagian warga Cilacap. Aksi pengungsian pertama, terjadi pertengahan Juli 2019 lalu.

Saat itu, warga terpancing isyu di media sosial mengenai adanya gempa besar di pantai selatan yang menyebabkan air surut dan adanya pernyataan pakar Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) Yogyakarta yang menyebutkan perairan selatan Cilacap berpotensi terjadi gempa megathrust. Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji sampai menyurati Gubernur Jateng menjelaskan langkah-langkah yang sudah diambil Pemkab Cilacap untuk mengatasi kecemasan warga.

Aksi pengungsian ini, terjadi lagi saat terjadi gempa 7,4 skala Richter di selatan Banteng Jumat (2/8) malam. Beberapa saat setelah informasi gempa beredar, sebagian warga yang tinggal di pesisir mengungsi ke lokasi yang lebih di tinggi. Bahkan warga yang tinggal di pesisir Cilacap bagian barat, banyak yang mengungsi hingga wilayah Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas.

Terkait hal ini, Tri Komara menyebutkan, kewaspadaan terhadap bencana memang perlu dilakukan, sehingga warga bisa langsung melakukan antisipasi bila terjadi bencana. Namun dia menyebutkan, kewaspadaan ini tidak perlu diikuti dengan sikap panik. ''Justru saat terjadi bencana, jangan sampai panik. Kepanikan masyarakat, justru akan menimbulkan masalah baru dan mempersulit upaya penyelamatan,'' katanya.

Untuk itu dia menyatakan, pihaknya akan terus mengintensifkan sosialisasi tentang mitigasi bencana. Pemahaman mengenai mitigasi bencana ini perlu terus dilakukan, mengingat wilayah yang memiliki resiko tinggi terdampak bencana di Kabupaten Cilacap, ada cukup banyak. ''Untuk bencana tsunami, ada 55 desa yang memiliki resiko terdampak,'' jelasnya.

Dia juga menyebutkan, saat ini memang cukup banyak informasi mengenai kebencanaan yang bisa diakses warga mengenai isu kebencanaan. Namun bila menerima informasi apa pun mengenai bencana, masyarakat jangan mudah terpancing untuk langsung mempercayai.

''Cek lebih dulu kebenarannya dengan mengkonfirmasi langsung pada lembaga yang berkompeten. Saat ini, semua lembaga resmi yang terkait masalah kebencanaan, sudah memiliki media sosial yang bisa diakses masyarakat,'' katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement