Kamis 11 Jul 2019 12:35 WIB

Harga Cabai Merah di Bukittinggi Tembus Rp 77 Ribu Per Kg

Kenaikan harga cabai merah di Bukittinggi karena dampak dari kenaikan nasional.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Nidia Zuraya
Cabai merah.
Foto: Humas Kementan.
Cabai merah.

REPUBLIKA.CO.ID, BUKITTINGGI -- Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kota Bukittinggi Alizar mengatakan, pasokan cabai merah kriting ke Pasar Kota Bukittinggi saat ini hanya mengandalkan barang dari Sumbar. Hal itu menurut Alizar yang membuat harga cabai merah kriting di Bukitinggi jadi melonjak. 

Berdasarkan catatan yang tertera di situs PIHPS Nasional, harga cabai merah kriting di pasar Kota Bukittinggi mencapai Rp 77.500 per kilogram. Pekan lalu, harganya masih di kisaran Rp 60 ribu-Rp 70 ribu per kilogram.

Baca Juga

"Sebelumnya (waktu harga cabai normal) bahan cabai merah itu ada yang masuk dari luar provinsi seperti dari Pulau Jawa, dari Bengkulu, dari Berastagi Sumatera Utara. Sekarang yang dari luar provinsi itu tidak ada yang masuk," kata Alizar kepada Republika, Kamis (11/7).

Alizar menyebut kenaikan harga cabai merah di Bukittinggi juga karena dampak dari kenaikan harga cabai merah secara nasional. Terlebih saat ini di beberapa provinsi di Pulau Jawa mengalami kekeringan. Sehingga pasokan cabai jadi menurun.

Sekarang, kata Alizar, pasokan cabai untuk pasar-pasar di Bukittinggi mengandalkan cabai lokal seperti dari Payakumbuh, Solok, Padang Panjang dari daerah sekitar lainnya.

Pemerintah Kota Bukittinggi kata dia belum punya solusi kongkrit untuk menekan harga cabai yang begitu tinggi saat ini. Tapi sejak jauh-jauh hari dari sebelum kenaikan harga cabai merah ini kata Alizar, Wali Kota Bukittinggi sudah mengimbau masyarakat agar menanam cabai dengan polibag di masing-masih pekarangan atau di lahan masing-masing.

Karena untuk kebutuhan cabai rumah tangga yang rata-rata 1/4 kilo perhari menurut Alizar masyarakat tidak harus membeli ke pasar."Sejak jauh hari Pak Wali Kota sudah mengimbau warga, siapkan polibag. Karena cabe 1/4 kg kan tidak harus terus beli di pasar," ujar Alizar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement