Senin 20 May 2019 15:47 WIB

Panen Melimpah, Harga Gabah di Banyumas Anjlok

Petani di Banyumas kesulitan menjual hasil panen karena rendahnya harga gabah.

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Nur Aini
Ilustrasi panen padi
Foto: ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko
Ilustrasi panen padi

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Hasil panen raya padi di Kabupaten Banyumas pada musim rendeng 2019 dinilai cukup baik. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Widarso, menyebutkan tingkat produktivitas sawah pada musim panen kemarin mencapai 5,5 ton gabah per hektare. Akan tetapi, tingginya hasil panen tersebut diikuti dengan harga gabah yang anjlok.

''Hasil panen sebanyak itu tergolong bagus. Selama masa tanam, juga tidak ada serangan hama yang cukup masif hingga menurunkan hasil panen,'' ujarnya, Selasa (20/5). Dengan hasil panen tersebut, dia menyatakan persediaan pangan di Kabupaten Banyumas saat ini tergolong melimpah.

Baca Juga

Dia menyebutkan, dari total lawah sawah seluas 30 ribu hektare, yang sudah panen saat ini mencapai lebih dari separuhnya. Bahkan di wilayah yang sudah panen, para petani saat ini sudah mulai mengolah lahannya untuk ditanami kembali. 

Namun, hasil panen yang cukup baik pada musim panen kali ini, tidak diikuti dengan harga hasil panen yang memadai. Dari pemantauan di lapangan, harga gabah kering giling (GKG) di tingkat petani, hanya dihargai Rp 4.500 per kg. Sedangkan, gabah kering panen (GKP), hanya dihargai Rp 3.300-3.500 per kg.

Dengan harga tersebut petani seringkali kesulitan menjual hasil gabahnya. ''Sudah harga anjlok, mau jual juga susah. Soalnya, pedagang yang biasa membeli gabah mengaku stok gabah yang dimilikinya sudah banyak,'' kata Karsidi (60 tahun), petani Desa Pegalongan Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas.

Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas yang juga manajer KUD Patikraja, Faturrahman, mengaku harga gabah di tingkat petani baik GKP maupun GKG, memang anjlok cukup tajam. Dia menyebutkan, penyebab anjloknya harga gabah tersebut disebabkan beberapa faktor. ''Selain faktor cuaca yang menyebabkan kualitas gabah menurun, juga karena program penyerapan pemerintah tidak maksimal,'' katanya.

Dia menyebutkan, sebagai manajer KUD Patikraja, koperasinya juga melakukan penyerapan gabah petani. Gabah tersebut, sebelumnya banyak disetorkan ke gudang Bulog Banyumas dalam program pengadaan. Namun, dia menyebutkan, sejak program raskin/rastra diganti dengan program BPNT (Bantuan Pangan Nontunai), penyerapan yang dilakukan Bulog sudah semakin kecil.

''Ini gabah yang kami beli dari petani masih menumpuk di gudang KUD. Mau disalurkan ke daerah lain, di daerah lain juga stoknya masih melimpah,'' katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement