Rabu 03 Apr 2019 11:25 WIB

BMKG Luncurkan Sistem AWOS untuk Keselamatan Penerbangan

Selama ini kebutuhan AWOS didapat dari produk impor yang memiliki harga lebih mahal

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi penerbangan
Ilustrasi penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluncurkan Automated Weather Observing System (AWOS) iRMAVIA. Sistem iRMAVIA merupakan singkatan dari iRM yang diambil dari sub Bidang Instrumentasi Meteorologi, sub Bidang yang mengembangkan AWOS dan Avia, yaitu Aviation.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan AWOS iRMAVIA merupakan produk dalam negeri, karya pertama anak bangsa khususnya generasi milennial BMKG.

Baca Juga

"Total bandara di Indonesia adalah 297 bandara, tetapi jumlah AWOS saat ini sebanyak 180 yang beroperasi di setiap bandara. Tentunya, kondisi ini masih jauh dari ideal,” ujarnya dalam keterangan tulis yang diterima Republika, Rabu (3/4).

Dwikorita menjelaskan selama ini kebutuhan AWOS didapat dari produk impor yang memiliki harga lebih mahal, kesulitan dalam pemiliharaan terutama untuk mendapatkan spare partnya.

“Kami mengembangkan AWOS iRMAVIA dan ke depannya melalui kerjasama dengan mitra industri dan perguruan tinggi, diharapkan dapat memenuhi pasar di Asia Pasifik dalam dunia penerbangan,” ungkapnya.

Sementara Deputi Bidang Instrumentasi, Kalibrasi, Rekayasa dan Jaringan Komunikasi Widada Sulistya menambahkan AWOS merupakan sistem pengamatan cuaca bandara yang dikonfigurasi untuk memberikan informasi kondisi cuaca bandar udara secara real time  berupa parameter suhu udara, kelembapan udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, jarak pandang, serta tinggi awan.

“Sistem ini akan ditransimisikan ke stasiun meteorologi penerbangan dan layanan navigasi untuk panduan tinggal landas dan lepas landas pesawat terbang,” ucapnya.

Dia menjelaskan pengembangan AWOS iRMAVIA melalui berbagai tahap. Pada tahap awal, memiliki fokus pada perancangan sistem dan tampilan. Tahap berikutnya, meliputi penyempurnaan sistem, penyandian otomatis, dan penyiapan implementasi. Terakhir, pengembangan sistem meliputi implementasi sistem dan evaluasi.

“Pada tahap awal, BMKG telah mengembangkan penggunaan data  dan sensor secara fleksibel. Selain itu, dilakukan pembutan interface dengan 3 fitur display, tower view, observer pressure view yang digunakan untuk mendukung keselamatan penerbangan,” jelasnya.

Proses terakhir, imbuh Widada akan dilakukan pengembangan data observasi dalam database.

Dengan adanya produk ini, menjadi langkah awal bagi Indonesia menuju kemandirian penyediaan peralatan penunjang keselamatan penerbangan sehingga angka kecelakaan transportasi udara akibat faktor cuaca dapat diminimalisir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement