Rabu 27 Feb 2019 00:20 WIB

Kementan-FAO Inisiasi Pasar Unggas Bersama di Jabodetabek

Pasar Bersama memiliki dua pasar yang hanya menjual karkas dan menjual unggas hidup

Pedagang Unggas membersihkan ayam sebelum menjual ke pasar, di kawasan Jakarta Timur, Jumat (11/1).
Foto: dokrep
Pedagang Unggas membersihkan ayam sebelum menjual ke pasar, di kawasan Jakarta Timur, Jumat (11/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk membuat model pasar unggas bersih, sehat dan aman (Bersama). Konsep Pasar Unggas Bersama ini akan dikembangkan di wilayah Jabodetabek.

Kepala Subdirektorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Arif Wicaksono, mengatakan pasar unggas Bersama dapat menjaga kebersihan dan kesehatan unggas serta mengubah kesan pasar yang keadaannya becek, bau dan kotor yang dapat mengganggu kenyamanan.

Baca Juga

"Program Pasar Unggas Bersama di Jabodetabek telah dilaksanakan selama 5 bulan sejak bulan Agustus hingga Desember 2018. Kami berharap pasar Bersama menjadi pasar yang sehat dan bebas Penyakit Avian Influenza," kata Arif melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (27/2).

Pasar Bersama memiliki dua pasar yang hanya menjual karkas dan satu pasar yang menjual karkas serta unggas hidup. Selain itu juga terdapat di 2 rumah potong hewan dan unggas (RPHU) yaitu RPHU Rorotan dan RPHU PD Risma Jaya, Kabupaten Tangerang.

Sebelumnya, Kementan dan FAO telah mengadakan pertemuan evaluasi kegiatan percontohan intervensi biosekuriti di rantai pasar unggas di wilayah Jabodetabek pada Kamis (21 Februari 2019). Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Perdagangan, Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan, pengelola pasar dan pengelola RPHU se-Jabodetabek.

Dari hasil pertemuan tersebut, disimpulkan bahwa lalu lintas unggas yang sangat tinggi di wilayah Jabodetabek menimbulkan risiko penularan penyakit, salah satunya penyakit Avian Influenza (AI) atau yang lebih dikenal dengan nama flu burung.

"Untuk memutus rantai penyebaran virus AI pada rantai pasar unggas, maka dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan dari pelaku usaha dalam melakukan pembersihan dan desinfeksi di pasar. Kami berharap program pasar Unggas Bersama ini menjadi model untuk pasar lain di Indonesia," kata Arif.

Pertemuan tersebut juga membahas mengenai capaian dan tantangan dari program pembinaan percontohan pada Pasar Cariu di Kabupaten Bogor, Pasar Kemis di Kabupaten Tangerang, Pasar Senen di Jakarta Pusat, RPHU Risma Jaya di Kabupaten Tangerang  dan RPHU Rorotan di Jakarta Utara.

Menurut dia, pelaku usaha di pasar dan RPU Binaan harus diberikan pelatihan dan bantuan alat untuk melakukan pembersihan rutin sesuai standar kesehatan, serta penggunaan disinfektan yang tepat.

Pasar dan RPHU juga dibina untuk menerapkan biosekuriti di pasar yaitu upaya-upaya pencegahan terhadap infeksi kuman penyakit yang berasal dari produk dan lingkungan di pasar yang sudah tercemar.

Arif menambahkan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan juga aktif mempromosikan Pasar Sehat, sementara Kementerian Perdagangan berupaya mewujudkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Pasar Rakyat.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement