Senin 18 Feb 2019 17:03 WIB

Debat Capres tak Sentuh Akar Persoalan Lingkungan

Tidak ada hal signifikan yang disampaikan di debat capres.

Rep: RR Laeny / Red: Joko Sadewo
Direktur Eksekutif WALHI Nur Hidayati (memegang mikrofon) saat konferensi  pers komentar Walhi mengenai performa dan kualitas debat capres 2019, di  Jakarta, Senin (18/2).
Foto: Republika/Rr Laeny Sulistyawati
Direktur Eksekutif WALHI Nur Hidayati (memegang mikrofon) saat konferensi pers komentar Walhi mengenai performa dan kualitas debat capres 2019, di Jakarta, Senin (18/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Lingkungan Hidup Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai debat calon presiden (capres) putaran kedua, Ahad (17/2), tidak menyentuh akar persoalan dan belum memuaskan.

Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati mengatakan, secara umum kedua capres belum bisa memberikan jawaban memuaskan. Para kandidat, menurut dia,  cenderung tidak menguasai atau menghindari pembahasan-pembahasan yang bersifat substantif terkait lingkungan.

Baca Juga

"Karena itu mereka belum bisa memberikan tawaran kira-kira bagaimana mereka akan memajukan tema-tema yang sedang diperdebatkan," ujarnya saat konferensi pers komentar Walhi mengenai performa dan kualitas debat capres 2019, di Jakarta, Senin (18/2).

Secara spesifik, dia melanjutkan, capres nomor urut 1 Joko Widodo lebih banyak mempromosikan yang telah dicapai. Selain itu, ia menilai klaim mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilakukan mantan wali kota Surakarta, Jawa Tengah tersebut terlalu berlebihan.

Seperti diketahui kemarin Joko Widodo mengatakan kebakaran hutan dan lahan sudah tidak ada sejak 2015. Padahal, dia melanjutkan, faktanya karhutla setiap tahun selalu terjadi. "Wajar sebagai pejawat ingin memunculkan prestasinya tapi seharusnya tidak menutup mata terhadap dampak-dampak negatif terhadap pembangunan yang dilakukan selama ini," ujarnya.

Proses pembangunan di periode kepemimpinan Joko Widodo, tambah Nur Hidayati, selama ini, masih menyisakan konflik. Bahkan di beberapa kasus misalnya membangun jalan yang membuka hutan alam misalnya di Papua dan Kalimantan justru bisa menimbulkan potensi dampak kerusakan lingkungan jangka panjang yang cukup besar. Dalam bidang pembangunan, kata Nur, juga ada konflik-konflik besar, konflik agraria, penggusuran bahkan kriminalisasi.

Sedangkan capres nomor urut 2 Prabowo Subianto, menurut Nur, terkesan tidak menguasai masalah, dan menyampaikan secara umum atau hanya jargon. "Capres nomor urut dua bisa dikatakan tidak siap. Selain itu capres nomor urut 2 sangat minim tawaran-tawaran alternatif," katanya.

Jadi, Nur Hidayati tidak melihat perbedaan signifikan antara capres nomor urut 1 dan 2 dalam bagaimana melaksanaan pembangunan ke depan. Karena itu, ia melanjutkan, Walhi tidak terlalu optimistis masalah lingkungan hidup dan kehutanan bisa diselesaikan presiden terpilih April 2019 mendatang. Baik yang terpilih pejawat atau presiden baru.

Nur berharap media massa tidak terperangkap kepada perdebatan kedua capres ini. "Melainkan menantang mereka (capres) terkait dengan (menyelesaikan) isu-isu di masyarakat," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement