Sabtu 29 Dec 2018 06:57 WIB

Mohammed Bin Salman (MBS) yang Semakin Kuat

Perombakan di Saudi memasukkan orang-orang yang dekat dengan Pangeran MBS.

 Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) berbincang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) di KTT G20, di Buenos Aires, Argentina, Jumat (30/11).
Foto: AP Photo/Natacha Pisarenko
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) berbincang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) di KTT G20, di Buenos Aires, Argentina, Jumat (30/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yeyen Rostiyani

Penguasa Arab Saudi Raja Salman bin Abdulaziz memerintahkan perombakan pejabat pemerintahan, Kamis (27/12). Ia juga merombak dewan tertinggi kerajaan yang selama ini mengawasi isu-isu yang terkait keamanan.

Namun, Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) tak terpengaruh oleh perombakan ini. Pangeran berusia 33 tahun ini juga tetap memegang posisi sebagai wakil perdana menteri dan menteri pertahanan.

Perombakan ini dinilai untuk lebih memperkuat kekuasaan MBS. Alasannya, orang-orang yang menggantikan sejumlah posisi penting Saudi adalah mereka yang dekat dengan MBS. Meski, menurut seorang sumber yang dikutip Reuters, perombakan kabinet ini sejalan dengan berakhirnya masa jabatan empat tahun.

"Tidak ada satu pun yang mempertanyakan posisi putra mahkota. Sebaliknya, (perombakan) ini memperkuat (ia)," ujar James Dorsey, peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies.

Perombakan ini dilakukan setelah pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, di Istanbul, Turki, 2 Oktober. Pembunuhan yang diyakini dilakukan para agen Saudi ini menodai citra Saudi. Perubahan ini juga dinilai sebagai sinyal Pemerintah Saudi mempertimbangkan resolusi Senat Amerika Serikat (AS) yang menyakini MBS terlibat pembunuhan Khashoggi.

MBS berupaya meyakinkan AS dan sejumlah negara Barat bahwa ia tidak terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Menteri Luar Negeri (Menlu) Adel al-Jubeir yang dikenal santun digeser dari posisinya oleh Ibrahim al-Assaf. Al-Jubeir yang berkunjung ke Indonesia pada Oktober, kini menjadi menteri negara yang mengurusi hubungan luar negeri.

Pengamat politik Saudi menilai, penggeseran al-Jubeir mencerminkan namanya tercoreng saat ia membela citra Saudi dalam isu pembunuhan Khashoggi. "(Assaf) pada dasarnya akan tunduk pada perintah, namun karena citranya yang positifi di mata internasional maka ia dipandang menjadi kunci untuk memperbaiki citra kerajaan yang ternoda," ujar Neil Quilliam, peneliti senior di lembaga think tank Inggris, Chatham House.

"Jadi, ini terdengar seperti pembaruan pada tahun baru ini, namun (sebetulnya) tidak ada yang sungguh-sungguh berubah."

Al-Assaf pernah menjabat sebagai menteri keuangan semasa kepemimpinan Raja Fahd dan Raja Abdullah. Ia sosok yang dikenal di kalangan investor internasional. Tak heran jika ia kerap memimpin delegasi Saudi ke Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Al-Assaf juga duduk sebagai anggota dewan komisaris di perusahaan minyak raksasa milik negara, Aramco, dan pengelola dana investasi negara. Ia meraih gelar doktor bidang ekonomi dari Colorado State University dan gelar master dari University of Denver.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement