Selasa 11 Dec 2018 14:22 WIB

Optimisme di Balik Fluktuasi Rupiah

Indonesia diyakini dapat bertahan dari serangan global.

Friska Yolanda
Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Friska Yolanda

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Friska Yolandha*

Dalam dua bulan terakhir, nilai tukar rupiah berfluktuasi cukup cepat. Pada awal Oktober lalu, rupiah mengalami tren pelemahan dan pada 11 Oktober 2018 mencapai level terendah sepanjang tahun, yaitu di posisi Rp 15.253 per dolar AS, berdasarkan kurs referensi (JISDOR). Setelah itu, rupiah kembali menguat tipis meninggalkan Rp 15.200.

Namun, selang beberapa hari, rupiah kembali menyentuh level Rp 15.200, tepatnya pada 30 Oktober di level Rp 15.237 per dolar AS. Setelah tanggal itu, rupiah berhasil meninggalkan level Rp 15.000 dan bertahan di Rp 14.000 plus-plus.

Tren rupiah setelahnya mengalami penguatan, dimana penguatan tertinggi dicapai pada 3 Desember sebesar Rp 14.252 per dolar AS. Namun, per 10 Desember, rupiah berada di level Rp 14.517 per dolar AS.

Penguatan dan pelemahan yang begitu cepat ini tentu dipengaruhi beberapa faktor. Pemerintah melalui Bank Indonesia berupaya meredam pelemahan rupiah dengan mengucurkan cadangan devisa. Pada akhir Agustus, cadangan devisa berada di posisi 117,9 miliar dolar AS atau turun 410 juta dolar AS dibandingkan periode sebelumnya. Pada akhir September, cadangan devisa susut menjadi 114,8 miliar dolar AS. Hasilnya, rupiah berhasil tidak jatuh lebih dalam.

Pada akhir Oktober, cadangan devisa akhirnya meningkat tipis menjadi 115,2 miliar dolar AS. Dan per akhir November lalu, cadangan devisa kembali menggemuk menjadi 117,2 miliar dolar AS.

Dibandingkan dengan awal tahun, rupiah memang masih menunjukkan tren pelemahan. Pada pembuka tahun 2018, rupiah berada di level Rp 13.542 per dolar AS. Pelemahannya masih hampir Rp 1.000 dibandingkan dengan awal Desember. Namun demikian, optimisme perlu dibangun bersamaan dengan dilakukannya sejumlah kebijakan oleh pemangku kepentingan.

Secara umum, Bank Indonesia (BI) menilai kondisi pasar keuangan cenderung membaik seiring dengan meredanya ketegangan perang dagang. Selain itu, ditahannya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) juga memberikan kesempatan bagi pasar berkembang untuk bernapas lega. Hal itu tercermin dari arus masuk investasi asing ke pasar keuangan.

Ditambah, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga telah mengimplementasikan percepatan penyelesaian transaksi bursa dari yang sebelumnya T+3 menjadi T+2. Hal ini membuat frekuensi perdagangan lebih tinggi karena dana lebih cepat berputar.

Penguatan nilai tukar ini juga didorong oleh kebijakan BI yang menaikkan suku bunga hingga sejak Mei hingga November sebesar 1,75 persen menjadi 6,0 persen. Meningkatnya suku bunga acuan ini mendorong arus modal asing masuk ke pasar keuangan.

Para pemangku kepentingan hingga pelaku usaha optimistis rupiah bertahan di tengah gempuran sentimen negatif yang terus menekan. Direktur Utama PT Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo meyakini rupiah hingga tutup tahun bertahan di level Rp 14.000an dan bertahan hingga 2019. Indonesia dinilainya dapat bertahan dari serangan global, terbukti dengan pertumbuhan ekonomi yang masih positif.

Namun, tentu kita tidak bisa menahan faktor global yang juga berpegaruh terhadap pergerakan nilai tukar. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi faktor eksternal. Ia meyakini faktor internal sendiri sudah cukup baik sehingga dapat mempertahankan posisi rupiah terhadap dolar AS.

"Kita masih waspadai mengenai faktor eksternal yang mempengaruhi rupiah," ujarnya di Bali, akhir pekan lalu.

Faktor-faktor eksternal yang dinamis nampaknya masih akan menghantui pergerakan rupiah hingga tahun depan. Mari berharap fluktuasinya tidak membawa mata uang garuda ini menjadi yang terloyo di Asia.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement