Senin 03 Dec 2018 05:19 WIB

Pedagang Baju Ikon Jakarta di Masjid Istiqlal

Baju dengan gambar ikon kota Jakarta cocok dijadikan sebagai oleh-oleh

Rep: Mimi Kartika/ Red: Bilal Ramadhan
Pedagang baju dengan ikon Jakarta berjualan di halaman Masjid Istiqlal dalam reuni 212 yang berlangsung Ahad (2/12).
Foto: Republika/Mimi Kartika
Pedagang baju dengan ikon Jakarta berjualan di halaman Masjid Istiqlal dalam reuni 212 yang berlangsung Ahad (2/12).

REPUBLIKA.CO.ID, Baju bergambarkan tugu Monumen Nasional atau Monas menghiasi barang dagangan milik Deden yang berjualan di pelataran Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Baju-baju yang dijualnya semua bertemakan Jakarta, selain Monas ada pula gambar Masjid Istiqlal, sepeda ontel, bajaj, hingga ondel-ondel.

Tak ketinggalan kalimat 'I Love Jakarta' juga ada di baju-baju dengan beragam warna tersebut. Ukurannya pun tersedia untuk dipakai anak-anak sampai orang dewasa. Dengan selembar Rp 50 ribu, pembeli bisa membawa pulang tiga potong kaus dengan pilihan aneka gambar dan warna.

Deden sudah berjualan di masjid terbesar di Asia Tenggara itu selama 10 tahun. Ia menargetkan para pembelinya merupakan mereka yang berasal dari berbagai daerah di luar Jakarta. Baju-baju yang ia jual itu menjadi pilihan para wisatawan sebagai buah tangan.

"Biasanya mereka yang beli dari daerah, itu menandakan kalau mereka udah pernah datang ke Jakarta," ujar pria berusia 39 tahun itu ditemui Republika di lapaknya sambil melayani pembeli, Ahad (2/12).

Pada pengujung pekan ini, ada kegiatan besar reuni 212 di Lapangan Monas dengan massa yang hadir diperkirakan mencapai lebih dari dua juta orang. Tak hanya di kawasan Monas, Masjid Istiqlal pun juga dipadati massa reuni 212 tersebut. Dengan banyaknya orang membuat keuntungan tersendiri bagi para pedagang di masjid termasuk Deden.

Bahkan ia mengaku, omzetnya bisa meningkat sampai 55 persen dibandingkan hari-hari biasanya. Ia mengaku mendapatkan berkah dari reuni karena mereka yang hadir berasal dari daerah di luar Jakarta. Menurutnya, banyak massa yang hadir membeli baju ini sebagai oleh-oleh untuk keluarganya.

"Ya lumayanlah, sekitar 55 persen dari biasanya. Kalau kayak gini kan kebanyakan mereka dari luar kota," kata Deden.

Kendati demikian, ia mengatakan, pendapatan di reuni 212 tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Ia mengaku, tidak perlu menunggu sore hari baju-bajunya sudah laris terjual seluruhnya. Sehingga, ketika massa sudah bubar, Deden juga tinggal menghitung pundi-pundi rupiahnya.

Hal senada juga diungkapkan Yunus, pria berusia 51 tahun pedagang baju setelan bergambar ikon Jakarta untuk anak-anak. Ia sudah 18 tahun mencari nafkah di Masjid Istiqlal. Ia menyebut, massa reuni 212 tahun 2018 tidak seramai tahun lalu. Menurut dia, hal itu lantaran reuni ini sudah dilakukan kedua kalinya.

"Dulu waktu reuni tahun lalu kan masih pertama jadi orang-orangnya juga dari seluruh Indonesia yang hadir. Jadi kami kalau siang begini sudah bisa istirahat, sudah hampir kejual semua baju-bajunya," kata Yunus.

Namun, keduanya tidak lantas lupa untuk selalu bersyukur. Mereka berharap, setiap wisatawan yang hadir ke Masjid Istiqlal dapat memilih baju bergambar ikon Jakarta ini sebagai oleh-oleh untuk sanak saudara di kota asal. Menurutnya, tak lengkap rasanya apabila tidak membeli baju bergambar ikon Jakarta.

Salah satu pengunjung yang merupakan kakak beradik asal Pasuruan, Jawa Timur, Abdul Nasir (30 tahun) dan Abdul Hamid (32 tahun), menyempatkan diri membeli oleh-oleh untuk anak-anaknya. Lantas mereka menjatuhkan pilihannya dengan membeli kaus bergambar ikon kota Jakarta di lapak milik Deden.

Menurutnya, baju dengan gambar ikon kota Jakarta cocok dijadikan sebagai oleh-oleh yang menandakan mereka telah menginjakkan kaki di Jakarta. "Oleh-oleh buat anak, bukan bajunya tapi Jakartanya," ujar Hamid ditemui Republika sambil memilih baju yang akan dibelinya.

Nasir juga mengatakan, selain membeli untuk anak-anaknya, ia juga membeli baju untuk dirinya sendiri. Ia berharap, bisa mengajak keluarganya ke Jakarta terutama Masjid Istiqlal di lain hari. Tak hanya membawa baju bergambar Monas, tetapi mengajak langsung anaknya melihat tugu emas itu secara langsung.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement