Sabtu 10 Nov 2018 13:53 WIB

SBY Ingatkan Politik Identitas di Indonesia Makin Ekstrem

SBY sebut politik ekstrim bisa bahayakan demokrasi.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Dwi Murdaningsih
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberi sambutan dalam pembekalan calon anggota DPR Partai Demokrat di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (10/11).
Foto: republika/fauziah mursid
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat memberi sambutan dalam pembekalan calon anggota DPR Partai Demokrat di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (10/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut politik di Indonesia saat ini telah berubah. Menurutnya, perubahan paling nampak dengan mengemukanya politik identitas atau politik yang terpengaruh dengan ideologi dan paham ekstrim. Ia mengatakan, perubahan nampak jelas setelah Pilkada DKI 2017 lalu.

"Sejak berlangsungnya Pilkada jakarta 2017 lalu saya berani mengatakan bahwa politik kita telah berubah, berubah adalah makin mengemukanya politik identitas, atau politik sara dan politik yang sangat dipengaruhi oleh ideologi dan paham," ujar SBY saat memberi sambutan dalam pembekalan calon anggota legislatif (caleg) DPR RI Partai Demokrat di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu, (10/11).

Meskipun ia memahami, politik tidak mungkin dipisahkan dengan ideologi, paham atau identitas tertentu. Namun, politik identitas di Indonesia bisa membahayakan demokrasi, jika berada di tingkatan ekstrim.

Terlebih, Indonesia memiliki riwayat konflik ideologi dan riwayat konflik identitas di masa lalu.

"Partai Demokrat mengajak dan meyerukan kepada saudara-saudara kami para komponen bangsa juga para elite politik serta pemimpin-pemimpin partai politik untuk sekali lagi bersama sama mencegah terjadinya politik identitas dan benturan ideologi dan paham yang makin ekstrim," ujar SBY.

Presiden keenam RI itu mengingatkan, sudah banyak negara-negara yang perang saudara karena adanya politik identitas yang ekstrim. Karenanya, sudah semestinya rakyat Indonesia menyadari dan mencegah hal itu terjadi.

"Jangan sampai menjadi ekstrim, lihat apa yang terjadi di banyak negara di dunia saat ini, bukan hanya di Timur Tengah, tapi juga di negara-negara lain yang mengalami malapetaka besar karena politik identitas, politik dengan kebencian yang mendalam, benturan ideologi dan paham, marilah kita cegah, hal itu tidak terjadi di negeri tercinta ini," kata SBY.

SBY berharap kontestasi dalam Pemilu 2019 mendatang pun berlangsung damai dan demokratis. Meskipun terjadi kompetisi yang ketat dan konfrontatif, tidak membuat bangsa Indonesia terpecah.

"Inilah harapan kami, Demokrat tidak ingin kontestasi Pilpres dan Pileg tahun depan yang prosesnya sudah berlangsung sejak sekarang ini tidak menimbulkan perpecahan bangsa, tidak mengarah ke disintegrasi, tapi kerukunan dan persatuan bangsa kita. Menangis kita kalau itu terjadi," katanya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement