Jumat 02 Nov 2018 18:36 WIB

'Sampah Plastik di Laut Jadi Isu Global Mendesak'

Danone-AQUA menggalang dukungan untuk target inovasi kemasan yang dapat didaur ulang.

Aqua
Aqua

REPUBLIKA.CO.ID, BALI -- Ketergantungan pada plastik telah menimbulkan krisis baru pada lingkungan hidup, yang antara lain disebabkan oleh cara kita dalam menangani dan membuang sampah plastik.

"Kini, sampah di laut telah menjadi salah satu isu global yang mendesak, dan perlu mendapat perhatian dari berbagai negara serta seluruh pemangku kepentingan dari berbagai tingkatan dan latar belakang," kata Presiden Direktur PT Tirta Investama (Danone-AQUA), Corine Tap, dalam siaran persnya, Jumat (2/11).

Corine menyatakan, Danone-AQUA menyadari adanya isu ini dan sekarang menggalang dukungan untuk bisa mempercepat pencapaian target inovasi kemasan yang menggunakan materi yang 100 persen dapat digunakan kembali, didaur ulang atau mudah terurai pada tahun 2025.

Baru-baru ini Danone-AQUA juga meluncurkan inovasi desain terbarunya, kemasan botol AQUA dari 100 persen bahan daur ulang, dan 100 persen dapat didaur ulang. Peluncuran awal kemasan botol AQUA 100 persen daur ulang ini, dilakukan pada perhelatan Our Ocean Conference (OCC) 2018 di Bali pada tanggal 29-30 Oktober yang lalu. Desain kemasan terbaru ini, merupakan sebuah tonggak pencapaian yang penting untuk mencegah tambahan sampah di laut dan menerapkan prinsip sirkuler reduce-reuse-recycle.

"Kami sudah dalam perjalanan meraih target untuk mengumpulkan lebih banyak plastik dari yang dipakai oleh Danone-AQUA di Indonesia pada tahun 2025. Kami sudah melakukannya di Bali. Namun, kami sadar perlu melakukan lebih," kata Corine.

Ia mengatakan, untuk bisa menangani permasalahan ini dalam skala yang lebih besar, perlu adanya kesamaan perspektif dari pemangku kepentingan yang terkait, terutama dalam memahami permasalahannya dan usaha menemukan solusi yang potensial. 

"Bergerak menuju bottle-to-bottle closed loop economy sangat memungkinkan, sebagaimana dibuktikan oleh individu dan berbagai organisasi di Bali ini. Namun, untuk memberi dampak yang lebih besar dibutuhkan keterlibatan dari seluruh pemangku kepentingan-dari skala kecil ke besar, dari sektor pemerintahan ke swasta, dan dari tingkat organisasi ke individu," kata Corine.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement