Rabu 10 Oct 2018 19:17 WIB

Owabong Bangun 22 Huntara bagi Korban Gempa Palu

Dana yang didonasikan berasal dari pendapatan selama lima hari.

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Yusuf Assidiq
Kawasan terdampak gempa dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah
Foto: Republika TV/Fakhtar Khairon Lubis
Kawasan terdampak gempa dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Tim kemanusiaan Perusahaan Daerah (PD) Objek Wisata Air Bojongsari (Owabong) Purbalingga, Jawa Tengah, memutuskan untuk membantu warga di lokasi bencana Kota Palu Sulawesi Tenggara, dengan membangun hunian sementara (Huntara). Namun karena keterbatasan dana bantuan, huntara yang akan dibangun diperkirakan hanya cukup untuk menampung 22 keluarga.

''Dalam waktu dekat, kami akan segera membangun huntara bagi 22 keluarga. Teknisnya sedang kami koordinasikan dengan pihak berwenang setempat,'' jelas Direktur PD Owabong, Hartono, melalui pesan whatsapp.

Hartono, bersama tiga relawan lainnya dari Owabong, saat ini sudah berada di Palu. Di kota ini, mereka bergabung dengan relawan lain yang sudah lebih dulu datang, termasuk dengan anggota Tim SAR Purbalingga yang sebelumnya telah diberangkatkan ke Palu.

Sebagaimana diketahui, sebagai bentuk kepedulian masyarakat Purbalingga terhadap korban bencana di Palu, PD Owabong telah menyumbangkan seluruh pendapatan dari unit usaha yang dikelola perusahaan itu, bagi korban bencana di Palu. Dana yang didonasikan berasal dari pendapatan selama lima hari, mulai 1 Oktober hingga 5 Oktober 2018.

Dari penjualan objek wisata yang dikelola PD Owabong, baik dari penjualan tiket objek wisata permainan air Owabong, objek wisata Sanggaluri Park, dan reservasi Owabong Cootage selama lima hari tersebut, terkumpul dana sebanyak Rp 114 juta. ''Dana itulah yang akan kami gunakan untuk membangun huntara,'' jelas Hartono.

Mengenai kondisi di lokasi bencana, dia menyebutkan, hampir seluruh warga Kota Palu saat ini berada di pengungsian. Rumah-rumah yang masih berdiri, tidak roboh akibat gempa,  banyak yang kosong tidak ada penghuninya.

''Hampir semuanya mengungsi. Sampai sekarang, anak-anak juga belum ada yang sekolah. Aktivitas, masih lebih banyak dilakukan relawan yang mengingkir puing, evakuasi jenazah, dan membantu warga di posko pengungsian,'' katanya.

Ia juga menyebutkan, hampir sebagian besar bantuan yang datang, merupakan bantuan  bahan makanan dan minuman. ''Karena belum banyak yang memikirkan tempat tinggal, maka kami memutuskan untuk memberikan bantuan dalam bentuk Huntara,'' katanya.

Sampai saat ini, lanjut dia, masih sangat sedikit warung makan yang buka. Demikian juga untuk toko-toko, termasuk toko swalawan, tidak ada yang buka kecuali toserba milik Transmart.

''Makanan hanya ada di dapur umum posko bantuan, sehingga baik relawan maupun warga, mengandalkan kebutuhan makan dari dapur umum yang ada di posko bantuan. Hal ini karena untuk mencari warung makan atau toko yang menjual kebutuhan pokok, masih sangat sulit,'' jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement