Ahad 07 Oct 2018 04:40 WIB

BMKG Akan Kembangkan Sensor Tsunami di Dasar Laut

Alat pendeteksi tsunami di dasar laut akan lebih cepat memberikan informasi.

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Israr Itah
Tsunami (ilustrasi)
Foto: [ist]
Tsunami (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan evaluasi terkait bencana tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng). BMKG juga berencana meningkatkan kualitas sensor tsunami di Indonesia. 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, dalam jangka panjang pihaknya mempersiapkan alat pendeteksi tsunami di dasar laut. Ia mengatakan, alat pendeteksi tsunami di dasar laut akan lebih cepat memberikan informasi daripada yang sekarang hanya terdapat di permukaan laut. 

"Yang sedang kami kembangkan adalah memasang sensor gempa dan tsunami yang ada di dasar laut. Karena begitu gempa dan tsunami begitu terjadi, sensor itu segera menngirimkan informasi ke BMKG. Sistem itu yang belum terbangun," kata Dwikorita, dalam diskusi 'Palu Retak', di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (6/10).

Dwikorita menjelaskan, pada saat gempa dan tsunami di Sulteng pekan lalu, pihaknya membutuhkan waktu dua sampai lima menit hingga BMKG bisa mengeluarkan informasi peringatan dini tsunami. Sebab, alat yang dimiliki Indonesia sekarang terdapat di permukaan laut dan ada waktu tertentu untuk menerima sensor dari dasar laut. Selain itu, sebelum dirilis ke publik, BMKG membutuhkan waktu untuk verifikasi data tersebut.

Kekurangan alat pendeteksi tersebut, kata Dwikorita akan segera diperbaiki. Ia mengatakan, pihaknya bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah membicarakan soal sensor tsunami di dasar laut sekitar tiga bulan yang lalu. 

Saat ini, BMKG bersama BPPT telah menyampaikan hal tersebut ke Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan. Pemerintah Pusat pun sudah mengamini proyek tersebut. Namun, ia mengakui realisasi proyek sensor tsunami dasar laut ini masih membutuhkan waktu. 

Ia mencontohkan, misalkan alat tersebut berasal dari Jepang. Ahlinya sudah datang dan pembicaraan dilakukan. Akan tetapi alat itu tetap harus dikaji dulu spesifikasinya. "Kan alat-alat itu punya spesifikasi tertentu. Buatan mereka belum tentu sepenuhnya bisa diterapkan di Indonesia karena kondisi medan di Indonesia tidak sama dengan negara mereka," kata Dwikorita. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement