Ahad 16 Sep 2018 15:11 WIB

Kiai Ma'ruf Dorong Penguatan Potensi Ekonomi Daerah

Kesenjangan ekonomi harus dihilangkan dengan cara menguatkan potensi ekonomi daerah.

Rep: Muhyiddin/ Red: Esthi Maharani
Bakal capres-cawapres Pilpres 2019, Joko Widodo (ketiga kanan) dan Ma'ruf Amin (keempat kiri)
Foto: Antara/Aprillio Akbar
Bakal capres-cawapres Pilpres 2019, Joko Widodo (ketiga kanan) dan Ma'ruf Amin (keempat kiri)

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Bakal Calon Wakil Presiden (Cawapres) 2019, Prof KH Ma’ruf Amin (KMA) mendorong pentingnya penguatan potensi ekonomi daerah untuk memajukan ekonomi Indonesia. Hal ini disampaikan KMA saat menjadi pembicara dalam dialog Kebangsaan yang digelar alumni organisasi mahasiswa Cipayung se Kalimantan Barat, di Hotel Mahkota, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (15/9).

KMA mengatakan, landasan ekonomi Indonesia yang terangkum dalam Pancasila sejatinya sudah sangat ideal. Namun, kata dia, saat ini masih perlu implementasi yang lebih riil agar Sila kelima Pancasila bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat secara merata.

Menurut dia, perekonomian Indonesia harus semakin maju dengan cara memperkecil kesenjangan ekonomi di tengah masyarakat. Bahkan, menurut dia, disparitas harus dihilangkan antara masyarakat miskin dan kaya dengan cara menguatkan potensi ekonomi daerah.

"Kemudian dengan menerapkan pola penguatan ekonomi daerah. Sesuai potensinya masing-masing. Daerah yang punya potensi pertanian, peternakan, hingga perdagangan dan industri perlu diperkuat, dibangun, dibukakan akses investasinya di daerah, dengan melibatkan unsur-unsur masyarakat setempat. Ini hal yang saya pikir penting,” ujar KMA dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (16/9).

Dia menuturkan, penguatan potensi ekonomi daerah sangat penting karena saat ini masih ada kesenjangan antara produk lokal dengan produk global. Baik kesenjangan dalam hal kualitas, harga, hingga brand image dan persoalan gengsi-gengsian.

Menurut dia, produk lokal Indonesia saat ini juga masih kurang bersaing dengan produk global, sehingga terjadi kesenjangan antara jumlah produk yang diimpor dengan produk yang diekspor. Padahal, kata dia, secara kualitas produk lokal kualitasnya tak jauh berbeda dengan produk impor.

"Tapi karena persoalan akses investasi, alat dan promosi yang kurang, produk lokal terkesan kurang bergengsi," ujarnya sembari mencontohkan sejumlah produk pertanian lokal seperti coklat di Sulawesi, jagung di Gorontalo, dan produk kerajinan tangan yang di Indonesia yang harganya murah. Namun, ketika dijual di Singapura, Saudi atau negara lain, kemudian menjadi berlipat harganya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement