Jumat 14 Sep 2018 12:53 WIB

Bandara Syamsuddin Noor Diselimuti Kabut Asap

Kabut asap tidak berdampak pada penerbangan karena jarak pandang masih tergolong aman

Bandara Syamsuddin Noor
Bandara Syamsuddin Noor

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Kawasan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin di Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, diselimuti kabut asap hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Airport Operation & Services Department Head Bandara Syamsudin Noor, Ruly Artha di Banjarbaru, Jumat (14/9), sejauh ini kabut asap tidak berdampak pada penerbangan karena jarak pandang minimal untuk pilot masih tergolong aman.

Kondisi adanya kabut asap belum sampai mengganggu jadwal penerbangan pesawat baik yang akan take off atau terbang landas maupun landing (mendarat). "Jarak pandang untuk take off minimal 400 meter dan landing 600 meter," kata Ruly.

Adapun pergerakan penerbangan di Bandara Syamsudin Noor dalam sehari, menurut dia, normalnya rata-rata terjadi 90 pesawat, baik take off maupun landing. Ruly juga terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait menyikapi kondisi alam saat ini. Apalagi, hal ini berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan, termasuk kepada seluruh maskapai yang beroperasi.

Tebalnya kabut asap di kawasan bandara diketahui akibat dampak dari kebakaran lahan yang terjadi di sejumlah wilayah.  Apalagi, titik api (hotspot) banyak bermunculan di Jalan Tegal Arum dan Guntung Damar, Kelurahan Syamsudin Noor yang lokasinya sangat dekat dengan bandara.

Kawasan gambut dan lahan kosong kerap terbakar di lokasi yang sudah dipasangi sumur bor oleh Badan Restorasi Gambut (BRG) Kalsel itu. Bahkan, Pos Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) juga didirikan di sana dengan dikomandoi oleh Polres Banjarbaru.

Sementara itu, Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya di Banjarbaru mengatakan bahwa petugas di pos tersebut senantiasa siaga 24 jam dan secara intens melakukan patroli. Kehadiran polisi pun diharapkan dapat menekan dan mencegah pelaku jika berniat sengaja melakukan pembakaran lahan.

Namun, hingga Jumat ini, terbakarnya lahan gambut diduga akibat faktor alam pada musim kemarau yang menyebabkan tanah kering dan panas hingga mudah terbakar. "Penanggulangan karhutla adalah tanggung jawab bersama. Seluruh unsur harus selalu bersinergi. Sebagai penegak hukum, saya akan tindak tegas jika ada pelaku yang sengaja melakukan pembakaran. Selain itu, turut membantu upaya pemadaman dengan semaksimal mungkin," kata Kelana.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement