Kamis 19 Jul 2018 15:27 WIB

Survei Terbaru LIPI: Jokowi Belum Aman

Survei terbaru LIPI dilaksanakan pada 26 April sampai 9 Mei 2018.

Pembahasan RAPBN 2019. Presiden Joko Widodo memimpin Sidang Kabinet Paripurna membahas RAPBN Tahun Anggaran 2019 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/7).
Foto: Republika/ Wihdan
Pembahasan RAPBN 2019. Presiden Joko Widodo memimpin Sidang Kabinet Paripurna membahas RAPBN Tahun Anggaran 2019 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) baru-baru ini menggelar survei terkait Pilpres 2019. Hasil survei menyatakan, elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) sebesar 58,2 persen atau mengungguli Prabowo Subianto sebesar 26,6 persen.

Peneliti LIPI Wawan Ichwanuddin menyebutkan, ada berbagai simulasi dalam survei tersebut. Misalnya, dengan pertanyaan tertutup apabila Pilpres 2019 diikuti tiga nama, elektabilitas Jokowi sebesar 57,4 persen, Prabowo Subianto 25,8 persen, dan Gatot Nurmantyo 4,9 persen.

Jika Pilpres 2019 diikuti lima nama, elektabilitas Jokowi sebesar 55 persen, Prabowo Subianto 22,9 persen, Gatot Nurmantyo 4,3 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 3,1 persen, dan Anies Baswedan 3,2 persen. Sementara itu, jika pilihan capres disurvei dengan pertanyaan terbuka, Jokowi memperoleh 45 persen, Prabowo Subianto 17 persen, dan Gatot Nurmantyo 1 persen.

Peneliti senior LIPI Syamsuddin Haris mengatakan, elektabilitas Jokowi sebesar 58 persen tersebut karena tingkat kepuasan publik cukup tinggi terhadap kinerja Jokowi sebagai presiden. Namun, menurutnya, angka elektabilitas itu aman jika Pilpres 2019 hanya diikuti oleh dua pasangan capres dan cawapres.

Ia menilai, tingkat elektabilitas tersebut masih dalam kadar yang aman apabila Pilpres 2019 hanya diikuti dua calon. "Namun, kalau kontestasi pilpres diikuti tiga pasangan calon, tingkat elektabilitas Jokowi sebesar 58 persen tersebut belum aman karena ada kemungkinan dukungan terpecah," ujarnya.

Baca juga: Survei Indobarometer: 68,6 Persen Warga Puas Kinerja Jokowi

Survei LIPI tersebut dilakukan pada 26 April sampai 9 Mei 2018 di seluruh provinsi dengan responden sebanyak 2.100 orang yang telah memiliki hak pilih. Metodologi survei menggunakan multistage random sampling dengan margin of error plus-minus 2,14 persen.

Prabowo cawapres Jokowi

Survei LIPI juga menghasilkan simpulan menarik saat ada 12,7 persen responden menginginkan Prabowo menjadi cawapres Jokowi di Pilpres 2019. Nama-nama lain yang dinilai layak mendampingi Jokowi adalah Anies Baswedan (dengan persentase 11 persen), Gatot Nurmantyo (10,2 persen), AHY (8,1 persen), dan Jusuf Kalla (7,2 persen).

Tokoh-tokoh yang dinilai dekat dengan kalangan santri, seperti Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD, hanya sedikit raihan persentasenya. Elektabilitas Muhaimin hanya berada pada angka 4,7 persen, sementara Mahfud MD sebesar 3,3 persen.

Adapun, jika Prabowo menjadi capres, ada beberapa nama masuk dalam bursa cawapres. Nama teratas adalah Anies Baswedan dengan (persentase 23,1 persen), Gatot Nurmantyo (20 persen), AHY (15,7 persen), TGB Zainul Majdi (5,9 persen), dan Wiranto (3,8 persen).

"Nama Jokowi pun muncul sebagai pilihan cawapres Prabowo. Namun, angkanya hanya 2,5 persen," kata Wawan.

"Kalau kontestasi pilpres diikuti tiga pasangan calon, tingkat elektabilitas Jokowi sebesar 58 persen tersebut belum aman karena ada kemungkinan dukungan terpecah," ujar peneliti senior LIPI, Syamsuddin Haris.

Ragam survei

Sebulan sebelumnya, hasil survei Indikator Politik Indonesia menyebutkan, jika pilpres digelar pada Maret, Jokowi akan menang telak atas pesaingnya, Prabowo Subianto. Hasil dari survei yang dilakukan pada 25 sampai 31 Maret lalu itu menunjukkan tingkat keterpilihan Jokowi mencapai 60,6 persen dibandingkan Prabowo yang hanya 29 persen.

Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi menyatakan, head-to-head antara kedua kandidat tersebut yang paling kuat. Namun, selisih keterpilihan Jokowi dan Prabowo sangat jauh.

Ia menyebutkan, jarak Prabowo dengan Jokowi ada sekitar 31 persen. “Meski demikian, masih ada waktu setahun ke depan bagi Prabowo mengejar ketertinggalan," kata dia.

Hasil survei Indikator juga memperlihatkan keunggulan Jokowi andai pilpres diikuti oleh tiga calon. Indikator membuat simulasi andai Jokowi bersaing dengan Prabowo dan mantan panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Dengan simulasi itu, Jokowi akan menang dengan tingkat keterpilihan 59,3 persen. Prabowo di urutan kedua dengan 27,3 persen dan Gatot 3,6 persen.

Simulasi lain yang dilakukan oleh Indikator adalah Jokowi bersaing dengan Prabowo dan Anies. Hasilnya, Jokowi pun masih di posisi teratas dengan 58,9 persen, sedangkan Prabowo 26,6 persen dan Anies 4,5 persen.

Lembaga penelitian Cyrus Network dalam survei pada bulan yang sama juga menunjukkan elektabilitas Jokowi berada di atas Prabowo. Berdasarkan pertanyaan top of mind atau pertanyaan terbuka, elektabilitas Jokowi berada di urutan teratas dengan 58,5 persen.

“Disusul Prabowo dengan 21,8 persen, Gatot Nurmantyo 2,0 persen, dan Hary Tanoesoedibjo 1,1 persen," ujar Managing Director Cyrus Network Eko Dafid Afianto dalam pemaparan hasil survei, Kamis (19/4).

Dia mengatakan, survei dilakukan pada 27 Maret hingga 3 April 2018 dengan melibatkan 1.230 responden yang tersebar di 123 desa/kelurahan di 34 provinsi se-Indonesia. Tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dan margin of error dalam survei ini kurang lebih tiga persen.

Menurut Eko, sampai saat ini Prabowo masih menjadi kompetitor terkuat Jokowi dibandingkan nama-nama lain. "Prabowo masih menjadi kompetitor terkuat," ujar Eko.

Baca juga:

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement