Jumat 13 Jul 2018 05:39 WIB

Kini, Listrik Cicih tak Lagi Numpang

Biasanya, Cicih membayar Rp 25 ribu untuk penggunaan listrik ke tetangganya.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Friska Yolanda
Menteri BUMN Rini M Soemarno mengunjungi warga Kampung Cisaninten Cikaret Desa Cikupa Kecamatan Karangnunggal, Cicih pada Kamis (12/7). Cicih menjadi penerima program jaringan listrik gratis hasil kerjasama PLN dan Pertamina.
Foto: Republika/Rizky Suryarandika
Menteri BUMN Rini M Soemarno mengunjungi warga Kampung Cisaninten Cikaret Desa Cikupa Kecamatan Karangnunggal, Cicih pada Kamis (12/7). Cicih menjadi penerima program jaringan listrik gratis hasil kerjasama PLN dan Pertamina.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Bagi masyarakat di kota besar, penetrasi layanan listrik merupakan hal lumrah. Kondisi berbeda dirasakan warga di lingkungan perdesaan. Tak semua warga Desa dapat merasakan layanan listrik secara maksimal. Ada saja warga yang masih menggantungkan diri guna mendapat layanan listrik dengan menumpang ke warga lainnya.

Menikmati listrik dengan cara menumpang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya. Warga di sana masih ada yang belum bisa menikmati listrik secara mandiri. Salah satunya ialah warga Kampung Kendeng Desa Cikupa Kecamatan Karangnunggal Iis Sumiati (45 tahun). 

Iis mengungkapkan selama lima tahun belakangan tak pernah merasakan listrik dengan maksimal. Ia mesti menumpang dengan tetangganya agar kebagian listrik.

Beruntung, Iis memilik tetangga yang rela berbagi jaringan listrik dengannya. Namun, kebaikan itu tidak gratis. Mesti hanya menggunakan listrik untuk penerangan lampu rumah, Iis tetap harus membayar biaya penggunaan listrik per bulannya.

"Di sini enggak dapat jaringan. Mesti menumpang sama tetangga. Tiap bulan bayar 25 ribu buat lampu saja," katanya pada wartawan di rumahnya yang berukuran sekitar sepuluh meter persegi, Kamis (12/7).

Kondisi serupa dirasakan juga oleh warga Kampung Cisaninten Cikaret Desa Cikupa, Cicih (72). Cicih menceritakan sudah sepanjang hidupnya tak pernah menikmati listrik dengan jaringan sendiri. Ia juga mesti bergantung pada tetangganya agar rumahnya yang berukuran sekitar lima meter persegi diterangi lampu.

Padahal letak kediaman Cicih tidak begitu jauh dari tiang listrik terdekat. Namun, biaya pembuatan jaringan listrik ke rumahnya terbilang mahal. Sehingga ia tak bisa memenuhinya karena penghasilan sebagai buruh cuci tidak menentu.

"Selama tinggal di sini enggak pernah ada listrik. Numpang saja terus walau cuma buat lampu," ujarnya.

Menyadari permasalahan tersebut, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak tinggal diam. Sejumlah BUMN bahu-membahu mengatasi masalah tersebut. Khususnya PLN dan Pertamina bekerjasama mengadakan Sinergi BUMN guna mendukung peningkatan rasio elektrifikasi dan perbaikan taraf hidup masyarakat. Peninjauan program Sinergi BUMN di Tasik ditinjau langsung oleh Menteri BUMN Rini M Soemarno.

Rini mengatakan program ini supaya memastikan pelaksanaan program penyambungan listrik pada 40 ribu masyarakat atau rumah tangga tidak mampu di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Untuk tahap awal, dilakukan penyambungan listrik gratis bagi 400 Kepala Keluarga (KK) Tasikmalaya yang tersebar di kecamatan Rajapolah, Kecamatan Singaparna dan Kecamatan Karangnunggal.

"Ada warga yang berlistrik tapi itu diambil dari rumah yang sudah berlistrik (Levering). Dengan bantuan sambungan listrik melalui Sinergi BUMN kepada masyarakat, warga sepenuhnya akan menikmati listrik langsung dari PLN. Ini tentunya sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan akses listrik secara penuh dan menopang kegiatan ekonomi rumah tangganya," katanya.

Direktur Utama PT PLN Sofyan Basyir menjelaskan masyarakat kurang mampu penerima bantuan program sambung listrik gratis memperoleh jatah sambungan listrik PLN daya 450 Volt Ampere (VA). Tarifnya berlaku subsidi dan sistem layanan prabayar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement