Selasa 05 Jun 2018 15:19 WIB

Pemerintah Pastikan Honorer di Daerah tak Terima THR

Penjaga sekolah yang berbahagia mendapat THR

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Budi Raharjo
Ilustrasi tenaga kerja honorer.
Foto: Republika/Yasin Habibi
Ilustrasi tenaga kerja honorer.

REPUBLIKA.CO.ID, Pemberian tunjangan hari raya (THR) oleh pemerintah pusat, membuat bahagia Asep Zakaria (47 tahun). Aparatur sipil negara (ASN) dengan golongan 1 C di Kabupaten Purwakarta ini, sangat berharap ada penghasilan lain di luar gaji bulanannya. Apalagi, THR ini turunnya menjelang Lebaran. Tentu akan digunakan untuk keperluan keluarganya.

Asep Zakaria, penjaga SDN 3 Tegaldatar, Kecamatan Manis, mengatakan, sejak 20 tahun silam dirinya mengabdi menjadi penjaga sekolah di SDN 3 Tegaldatar. Awalnya menjadi tenaga honorer, yang diberi upah oleh pihak sekolah. Upahnya alakadarnya, disesuaikan dengan kemampuan sekolah.

"Boleh dibilang kecil. Tapi, alhamdulillah saya bisa menghidupi anak dan istri," ujar Asep, kepada Republika, Senin (4/6). Upah yang kecil tak menyurutkan niat Asep untuk terus mengabdi pada negara. Buah dari kesabarannya itu, pada 2009 lalu, Asep diangkat menjadi ASN.

Akan tetapi, karena jenjang pendidikannya rendah, yakni hanya lulusan SD maka saat menjadi ASN juga upahnya rendah. Untuk gaji pokoknya saja hanya Rp 1.060.000 per bulan. Dengan tunjangan anak dan istri, upah yang diterima Asep sekitar Rp 2 juta per bulan. Karena itu, menjelang Lebaran ini pemerintah menggelontorkan THR bagi ASN.

Jelas, hal ini sangat membuatnya bahagia. Uang THR ini dapat digunakan untuk keperluan lain. Seperti, membeli baju anak-anak dan istrinya. Sebagian lagi digunakan untuk memberi saudara ataupun tetangga. "Alhamdulillah, sangat bersyukur kami menerima THR satu kali gaji, tanpa potongan. Ibarat dapat uang kaget," ujar bapak tiga anak ini.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Didi Garnadi mengakui, golongan terendah ASN di lingkungan instansinya memang 1 C. Salah satunya, yaitu penjaga sekolah. Terkait dengan adanya THR ini, pihaknya sangat mengapresiasi.

Sebab, tunjangan tersebut dapat bersih diterima tanpa potongan oleh pegawai. "THR ini sangat bermanfaat bagi semua ASN. Apalagi, bagi pegawai yang golongannya rendah," ujarnya.

Ditemui terpisah, Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Purwakarta, Norman Nugraha mengatakan, alokasi untuk THR ASN dan non-ASN di Kabupaten Purwakarta sekitar Rp 55 miliar. Dari alokasi itu, Rp 5 miliarnya khusus diperuntukkan bagi pegawai honorer atau non- ASN. "Untuk pembayarannya, pekan ini serentak," ujar Norman.

Peduli honorer

Pemerintah memastikan honorer di daerah tak menerima tunjangan hari raya (THR) seperti halnya aparatur sipil negara (ASN). Untuk itu, para ASN diminta kepeduliannya terhadap para pegawai honorer.

Hal itu seperti yang terjadi di Kabupaten Indramayu. Meski tidak ada surat edaran ataupun imbauan secara resmi dari pemerintah daerah, ASN diharapkan peduli pada rekan-rekan mereka yang berstatus sebagai honorer. "Ya kita berbagi rasa," ujar Sekda Kabupaten Indramayu, Ahmad Bahtiar, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/6).

Bahtiar berharap, ASN yang mendapat THR bisa menyisihkan sebagian kecil THR-nya untuk dibagikan kepada pegawai honorer. Uang THR dari para ASN itu selanjutnya dikumpulkan dan dibagi sesuai jumlah pegawai honorer yang ada.

Bahtiar menyatakan, hal itu sudah dilakukan di lingkungan Pemkab Indramayu saat Lebaran tahun lalu. ASN di setiap dinas menyumbangkan uang THR seikhlasnya, untuk selanjutnya dibagikan kepada honorer yang tidak memperoleh THR, yang ada di masingmasing dinas tersebut.

Bahtiar mengatakan, sesuai ketentuan pemerintah pusat, Pemkab Indramayu tidak bisa menganggarkan THR bagi para pegawai honorer. Menurut dia, THR hanya akan dibayarkan kepada para ASN. Di Sukabumi, Ketua Forum Honorer Indonesia (FHI) Kota Sukabumi, Heriyanto mengatakan, idealnya pemerintah memberikan THR pula bagi para honorer. Menurut dia, para tenaga honorer, terutama guru, selama ini tidak mendapatkan THR.

Minimal, menurut Heriyanto, bila tidak ada THR bisa ada kepedulian berupa kadeudeuh dari pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum ada kepastian informasi mengenai pemberian kadeudeuh atau dalam bentuk lainnya.

Terlebih lanjut Heriyanto, saat ini Kota Sukabumi dipimpin penjabat wali Kota Sukabumi Dady Iskandar yang baru saja dilantik gubernur. Dampaknya, para tenaga honorer belum mengetahui arah kebijakan dari pemimpin baru tersebut. ¦ riga nurul iman/lilis sri handayani ed: stevy maradona

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement