Selasa 08 May 2018 21:55 WIB

GP Ansor: Eks HTI Saudara Kita Juga, tak Perlu Sweeping

GP Ansor menilai anggota eks HTI perlu dirangkul demi menjaga keutuhan NKRI.

Rep: Ali Mansur/ Red: Andri Saubani
Massa   HTI saat menunggu hasil sidang pembacaan putusan gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Jakarta, Senin (7/5).
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Massa HTI saat menunggu hasil sidang pembacaan putusan gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Jakarta, Senin (7/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komandan Densus 99 GP Ansor, Nuruzzaman menegaskan bahwa tidak perlu untuk melakukan sweeping terhadap eks anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Justru, pihaknya akan merangkul mereka untuk kembali menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan falsafah Pancasila.

"Tidak perlu ada sweeping eks anggota HTI. Karena mereka juga masih saudara kita, mereka juga warga negara Indonesia," tegas Nuruzzaman dalam diskusi bertema "Menerima Bersama Hasil Putusan Sidang HTI" di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Selasa (8/5).

Selain itu, Nuruzzaman juga mengakui pihak sudah sejak dulu melakukan audiensi dengan pihak HTI terkait khilafah. Bahkan. tidak jarang pihaknya berdiskusi dengan mereka. Itu dilakukan agar HTI bisa kembali mencintai dan mengakui Pancasila.

"Bagi mereka khilafah itu bagian daripada keimanan jadi harus diperjuangkan bagaimanapun juga. Bagi kami Pancasila itu sudah final," tambahnya.

Selain itu, Nuruzzaman juga menyarankan agar pemerintah melakukan kontra narasi dan wacana, khususnya di media sosial yang menjadi salah satu medium bagi anggota HTI. Mengingat mereka menyebarkan pemahaman dan ideologinya lebih dominan melalui media sosial. Sementara, media sosial sudah santapan generasi milenial di Indonesia untuk mendapat informasi dan pemahaman agama.

"Maka harus segera dilakukan kontra narasi, mengampanyekan bahwa Indonesia ini sudah syariat Islam, sudah Islam, ngapain mau mengubah

menjadi negara Islam," tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement