Selasa 06 Feb 2018 12:19 WIB

Badan Geologi Periksa Gerakan Tanah di Bogor

Tim melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana

Proses pencarian korban longsor di Cijeruk, Bogor, Selasa (6/2).
Foto: dok: Humas Polres Bogor
Proses pencarian korban longsor di Cijeruk, Bogor, Selasa (6/2).

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan pemeriksaan terhadap gerakan tanah yang terjadi di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tim Tanggap Darurat (TTD) Badan Geologi saat ini sudah mulai melakukan pemeriksaan guna mengetahui penyebab terjadinya gerakan tanah.

"Tim Tanggap Darurat Badan Geologi saat ini sudah berada dilokasi terjadinya gerakan tanah berupa tanah longsor di Kabupaten Bogor. Tim akan melakukan pemeriksaan di lokasi bencana untuk mengetahui penyebab terjadinya bencana," ujar Kepala Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Kasbani, Selasa (6/2).

Ia mengatakan gerakan tanah yang melanda tiga lokasi di Kabupaten Bogor terjadi akibat curah hujan yang tinggi dengan durasi lama serta kemiringan lereng tebing yang terjal. Selain melakukan pemeriksaan, Tim Tanggap Darurat Badan Geologi juga akan memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah.

Gerakan tanah terjadi di jalur Puncak menutup jalur utama yang terletak di tiga titik ruas jalan di Jalan Raya Puncak, yakni di seputaran Masjid Attawun, Riung Gunung dan Widuri. Gerakan tanah ini terjadi hari Senin 5 Februari 2018 pukul 09.25 WIB. Jenis Bencana gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa longsoran bahan rombakan yang turun dari gunung sepanjang 20 meter. Dampak gerakan tanah longsor menutup seluruh badan jalan di Jalur Puncak.

Kasbani menjelaskan, kondisi daerah bencana di sekitar lokasi gerakan tanah berupa perbukitan dengan ketinggian lebih dari 1.318 meter di atas permukaan laut.

"Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2018 di Kabupaten Bogor, daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah hingga tinggi, artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali," terang Kasbani.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement