Senin 29 Jan 2018 12:34 WIB

Rokok Ancam Kualitas Bonus Demografi

Lbih dari 43 juta anak Indonesia telah terpapar asap rokok.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Andi Nur Aminah
Deputi Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA Leny N Rosalin
Foto: Gumanti Awaliyah
Deputi Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA Leny N Rosalin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyebut, lebih dari 43 juta anak Indonesia telah terpapar asap rokok. Hal itu dipastikan mengancam penurunan produktivitas dan kualitas bonus demografi pada tahun 2030 mendatang.

Deputi Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA Leny N Rosalin menjelaskan, jumlah perokok di Indonesia menjadi peringkat pertama di dunia. Hal itu merujuk pada data tahun 2016 yang menyebut jumlah perokok di Indonesia lebih dari 90 juta jiwa. "Ada 43 juta anak yang terpapar, 11,3 juta di antaranya anak yang berusia di antara nol hingga empat tahun. Anak yang terpapar asap rokok akan memiliki pertumbuhan badan yang tidak optimal dan juga terancam mengalami stunting," jelas Leny dalam Workshop dan Peluncuran Hasil Monitoring Iklan, Promosi dan Sponsor rokok di Hotel Ibis, Jakarta Pusat, Senin (29/1).

Leny mengungkapkan, lebih dari 30 persen anak Indonesia yang berusia kurang dari 10 tahun mulai mengisap rokok. Dia menduga, tingginya jumlah perokok anak disebabkan karena adanya anggapan akan maco ketika merokok.

Selain itu, dia menyebut, maraknya iklan, promosi dan sponsor rokok di tempat umum juga memiliki andil yang besar dalam memperluas akses anak merokok. Karena itu, pemerintah daerah diminta mulai bersaing dalam memproduksi iklan bandingan tentang bahaya rokok. "Iklan rokok itu banyak, di mana-mana. Makanya saya dorong Pemda untuk bisa membuat iklan bandingan untuk menyetop peredaran rokok," jelas dia.

Karena itu, Leny menjelaskan, ada lima strategi intervensi agar anak bisa terhindar dari bahaya rokok. Yakni, perlindungan dan pendidikan dari keluarga, pemahaman lanjutan tentang bahaya rokok, aturan dari Pemda, pendekatan langsung kepada anak dan melalui lingkungan.

Jika strategi tersebut dilakukan secara konsisten dan terus menerus, Lenym mengatakan, diharapkan bisa menekan dan menyelamatkan anak yang akan menjadi bonus demografi ke depan. Sehingga mereka mampu bersaing dan menjadi penopang bangsa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement