Senin 22 Jan 2018 01:00 WIB

Umrah ke Yerussalem

Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama besar dunia.

Mizaj Iskandar
Foto: dok. Pribadi
Mizaj Iskandar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr Mizaj Iskandar Lc LLM  *)

Sebagian pembaca, mungkin kaget ketika pertama sekali membaca judul tulisan ini, umrah kok ke Yerusalem bukannya ke Makkah?! Umrah yang penulis maksudkan dalam judul di atas adalah umrah dalam pengertian etimilogis dan bukan dalam pengertian terminologis (syar’an).

Kata umrah secara bahasa mengandung makna ziarah atau berkunjung. Dalam pengertian ini tidak ada yang salah dengan frasa “umrah ke Yerussalem”, karena yang dimaksudkan bukanlah umrah dalam pengertian melakukan ihram, thawaf, sa’i dan tahalul. Melainkan umrah dalam artian berkunjung atau berziarah ke tempat yang disucikan di dalam agama.

Terlebih lagi jika kita kembali membuka lembaran hadis, niscaya kita akan temukan sebuah hadis Nabi yang menganjurkan bersusah payah (syiddah al-Rihal) dalam mengunjungi tiga mesjid, Masjid Haram di Makkah, Masjid Nabawi di Mekkah dan Masjid al-Aqsa yang terletak di Yerusalem. Sekali lagi hadis Nabi tersebut melegitimasi judul tulisan ini.

 

Kota Yerusalem

Kebetulan belum lama ini penulis berkesempatan mengunjungi kota Yerusalem yang sekarang berada di bawah kontrol Israel. Ada yang unik dengan kota ini, di Yerusalem, penduduknya memiliki tiga kewarganegaraan, ada yang memegang kewarganegaraan Yordania, Palestina maupun Israel. Secara politis kota ini di bagi menjadi dua bagian, Yerussalem Timur dan Yerussalem Barat. Yerusalem Timur dihuni oleh mayoritas Arab Muslim sedangkan Yerusalem Barat dihuni oleh orang-orang Yahudi. Sebelum tahun 1967 Yerusalem Timur berada di bawah kontrol Yordania.

Namun kemudian Israel menduduki daerah ini dan mengklaimnya sebagai wilayah mereka. Klaim Israel ini tidak pernah mendapatkan persetujuan dunia Internasional. Bahkan, PBB mengusulkan agar Yerusalem Timur menjadi kota Internasional. Yerusalem Timur ini lah yang diklaim sepihak oleh pemerintah Donald Trump (President Amerika Serikat) sebagai ibukota Israel Raya dengan memindahkan kedutaan mereka dari Tel Aviv (67 km dari kota Yerusalem) ke Kota Yerusalem Timur.

Cecara kultural, kota Yerusalem dibagi ke dalam dua wilayah. Old Yerusalem (kota tua) dan New Yerusalem (kota baru). Di New Yerusalem terlihat kehidupan yang sudah sangat modern bahkan cenderung kebaratan. Tidak jarang terlihat ditengah kota New Yerusalem pemuda-pemudi menggunakan pakaian modis ala selibriti Barat. Sedangkan Old Yerusalem terdiri dari kota benteng yang dikelilingi tembok-tembok besar yang memiliki delapan pintu gerbang masuk.

Kota tua Yerusalem yang memiliki luas lebih kurang sembilan km2 dibagi ke dalam empat wilayah (four quarters). Keempat wilayah tersebut masing-masing adalah wilayah Muslim sebagai wilayah mayoritas, Yahudi, Kristen dan Armenia. Keempat komunitas tersebut hidup berdampingan. Hal ini tidak seperti yang digambarkan oleh media masa. Bahkan tidak jarang ditemukan beberapa polisi atau tentara berseragam merupakan seorang Muslim. Saya sendiri bertemu dengan seorang polisi Israel berseragam lengkap yang shalat dan mengaji di dalam mesjid Qubah al-Shakhrah.

Yerusalem tempat umrah tiga agama

Yerusalem merupakan kota suci bagi tiga agama besar dunia. Islam, Kristen dan Yahudi menjadikan Yerusalem sebagai salah satu distinasi ziarah (baca: umrah) mereka. Bagi umat Islam misalnya, Yerusalem merupakan tempat beradanya Meajid al-Aqsa yang merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Ka’bah. Selain itu, di komplek al-Quds  al-syarif juga terdapat Qubah al-Shakhrah yang diyakini umat Islam sebagai tempat terakhir sebelum Rasulullah di lontarkan ke Sidratul Muntaha dalam perjalanan Isra’ dan Mi’Raj.

Bagi Yahudi di Yerusalem terdapat tembok ratapan (western wall) yang biasanya digunakan sebagai tempat memanjatkan doa kepada tuhan Yehwa. Dalam keyakin Judaisme, tembok ratapan diyakini sebagai “telinga tuhan” yang dapat mendengarkan setiap doa yang dipanjatkan ditempat tersebut. Tidak mengherankan jika di pelataran tembok ratapan (western wall plaza) didapati banyak orang Yahudi sangat khusyuk berdoa. Bagi orang Yahudi yang tidak berkesempatan berziarah langsung ke tembok ratapan, dapat mengirimkan doa yang dituliskan dalam secarik kertas (kaddish) dan kemudian kertas itu disisipkan pada celah-celah tembok ratapan (kvitelach).

Sedangkan bagi umat Kristen di Yerusalem terdapat situs suci seperti Gereja Makam Kudus (church of holy sepulcher) yang diyakini sebagai tempat disalibnya Yesus Kristus. Di tempat lain di antara Yerusalem dan Tepi Barat (West Bank) juga terletak Betlehem yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus.

Tempat-tempat suci tersebut menjadikan Yerusalem tidak pernah sepi dari para penziarah dari seluruh pelosok dunia, terutama yang beragama Yahudi dan Kristen. Sedangkan penziarah yang beragama Islam terlihat “kurang berminat” berziarah ke Yerusalem dari dua penganut agama sebelumnya.

Dalam amatan saya, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan kurang berminatnya umat Islam berkunjung ke Yerusalem. (1) Faktor Mesjidil Haram dan Masjid Nabawi yang dianggap lebih “islami” dibandingkan Masjidil Aqsa. Padahal jika diperhatikan, Nabi tidak membedakan ketigannya dalam kemestian berpayah-payah dalam mengunjunginya. (2) Israel terus menciptakan stigma bahwa Yerusalem merupakan ibukota bagi Israel Raya dan tempat tidak aman bagi orang Islam dan Arab. Dan (3) Media masa terus memproduksi berita bahwa di Yerusalem selalu terjadi konflik antara Arab dan Yahudi. Padahal keadaan di sana sebaliknya. Umat Islam bisa hidup berdampingan dengan penduduk dari agama lain.

Maka, tidak heran jika di hotel tempat saya menginap saja lebih banyak dihuni oleh peziarah kristen Indonesia yang berasal dari Maluku dari pada peziarah Muslim Indonesia. Jika kondisi ini terus dibiarkan jangan salahkan siapa-siapa jika suatu saat nanti muncul klaim bahwa Yerusalem merupakan kota suci umat Yahudi dan Kristen saja. Wallahu a’lam bil haqiqah wa shawab.

*) Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda dan Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement