Jumat 05 Jan 2018 00:33 WIB

Keterbukaan Cina dan Peluang UMKM Indonesia

William Henley
Foto: dok. Pribadi
William Henley

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: William Henley *)

Angin segar berembus dari Negeri Tirai Bambu, Cina, jelang tutup tahun 2017. Pemerintah Cina, melalui Menteri Perdagangan Zhong San, menyatakan akan membuka pintu lebar-lebar bagi investor asing. Mengutip pemberitaan kantor berita Reuters, 31 Desember 2017, Zhong mengungkapkan, selain mempermudah investor asing memasuki pasar dalam negeri Cina, hak-hak perusahaan asing pun dijamin.

Cina juga berjanji akan terus melanjutkan reformasi birokrasi yang memiliki kaitan dengan dunia usaha. Semua ini karena Cina berkeinginan menjadi negara terbesar di dunia dalam konteks perdagangan sebelum 2050. Saat ini, negara terbesar di sektor perdagangan adalah Amerika Serikat (AS).

Jika dicermati, langkah Cina merupakan respons atas keluhan sejumlah perusahaan asing yang beroperasi di sana. Ketidakpastian sering kali menghantui usaha mereka. Tidak hanya itu, kebijakan pemerintah sering kali dinilai hanya menguntungkan pengusaha lokal.

Jika ditarik ke dalam konteks Indonesia, keterbukaan Cina perlu direspons segera oleh para pengusaha Tanah Air. Lebih spesifik lagi oleh para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Namun, hal ini tentu tidaklah mudah karena dibutuhkan kerja keras semua pihak.

Pasar besar

Cina merupakan salah satu negara dengan kapasitas ekonomi yang besar di dunia. Menurut data trading economics, pendapatan per kapita (GDP) Negeri Tirai Bambu sampai dengan akhir Desember 2016 mencapai 11.199 dolar AS. Di antara negara-negara anggota G20, Cina berada di urutan ketiga di bawah AS (18.569 dolar AS) dan negara-negara Eropa (11.885 dolar AS).

Salah satu pendukung perekonomian Cina adalah jumlah penduduk yang demikian besar. Populasi berdasarkan proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2017 mencapai 1,41 miliar jiwa. Dari jumlah itu, sekitar lebih dari 50 persen merupakan penduduk kelas menengah.

Firma konsultan McKinsey bahkan memproyeksikan dalam jangka waktu lima tahun ke depan, populasi kelas menengah Cina akan meningkat menjadi 76 persen. Mereka adalah penduduk yang tadinya berpendapatan 9.000 dolar AS sampai 16 ribu dolar AS per tahun, menjadi 16 ribu dolar AS hingga 34 ribu dolar AS per tahun.

Sejumlah potensi yang ada tentu tentu sayang jika dilewatkan. Apalagi, dengan adanya komitmen Pemerintah Cina membuka lebar-lebar partisipasi investor asing, maka peluang semakin besar. Tidak terkecuali bagi para pelaku UMKM di Indonesia.

Selama ini, telah banyak produk UMKM Tanah Air yang diminati pasar dalam negeri Negeri Tirai Bambu. Salah satu yang terkemuka adalah kerupuk udang. Sebuah penganan tradisional yang dibuat dengan metode tradisional namun dikemas modern.

Tantangan

Jika ditelusuri, masih banyak lagi produk-produk UMKM Indonesia yang sudah mampu menembus pasar Cina. Akan tetapi, sebagaimana ke negara-negara lain, tidak mudah memasuki pasar suatu negara. Begitupun Cina.

Sejumlah tantangan masih menaungi UMKM Indonesia. Jika dikerucutkan, tantangan-tantangan itu meliputi aspek psikologis pasar, brand produk yang lemah, sampai hal mendasar seperti administrasi.

Perihal psikologis pasar, harus diakui, seolah masih ada rasa takut dan khawatir di kalangan pengusaha UMKM Indonesia. Hal ini tidaklah mengherankan. Sebab, pasar dalam negeri pun dibanjiri oleh produk-produk Cina.

Akan tetapi, yang perlu diingat adalah produk UMKM Tanah Air memiliki kekhasan tersendiri. Ada berbagai keunggulan komparatif. Sebagai contoh adalah ragam racikan pada kerupuk udang Indonesia yang berbekal pada kekayaan budaya kuliner milik bangsa.

Terkait brand produk yang lemah, semua tidak hanya berkaitan dengan kualitas produk semata. Pembangunan brand jelas membutuhkan pelayanan prima dan tentu harga yang masuk akal. Jika komponen-komponen ini terpenuhi, maka UMKM Indonesia akan semakin dikenal oleh konsumen di Negeri Tirai Bambu.

Sementara untuk hal-hal mendasar seperti administrasi, tentu pelaku UMKM Indonesia membutuhkan uluran tangan pemerintah. Dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta instansi-instansi terkait lainnya, bisa turun langsung memberi pendampingan. Sehingga pelaku usaha pun semakin yakin menembus pasar Cina.

Peluang

Apabila tantangan-tangan itu telah diatasi, maka peluang untuk masuk ke pasar Cina terbuka. Ditambah lagi dengan pasar digital yang sedang mewabah. Utamanya yang terkait e-commerce.

Peluang kini semakin terbuka lebar dengan keberadaan perusahaan-perusahaan e-commerce kelas dunia di Indonesia. Sebagai contoh Alibaba Group yang telah berekspansi ke dalam negeri. Alibaba sudah menjalin kemitraan dengan para pelaku usaha lainnya seperti Tokopedia dan Lazada.

Belum lagi perusahaan-perusahaan sejenis di sektor e-commerce lainnya. Keberadaan perusahaan-perusahaan itu membuat kebutuhan pasar Cina terhadap produk UMKM Indonesia semakin mudah terpenuhi. Semua karena ekosistem bisnis yang telah terintegrasi.

Menutup artikel ini, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa UMKM Indonesia memiliki kelas tersendiri di kancah global. Rasa takut dan khawatir harus dikalahkan. Semua dengan memenangkan persaingan, termasuk melalui jalan menembus pasar Cina, yang dikenal sulit tersebut.

*) Founder Indosterling Capital

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement