Jumat 22 Dec 2017 18:26 WIB

Dirut BTPN Syariah: Perempuan Harus Menjadi Panutan

Rep: Binti Sholikah/ Red: Gita Amanda
 BTPN Syariah bersama Republika menggelar talkshow bertajuk 'Inklusi Keuangan dan Pemberdayaan Perempuan melalui Pembiayaan Syariah' di RM Rodjo Semarang, Rabu (15/11). Talkshow menghadirkan pembicara Direktur BTPN Syafiah, Ratih Rachmawaty, Direktur Eksekutif Center of Reform in Ecinomics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini dengan moderator Pemred Republika Online (ROL), Elba Damhuri.
Foto: Republika/Bowo Pribadi
BTPN Syariah bersama Republika menggelar talkshow bertajuk 'Inklusi Keuangan dan Pemberdayaan Perempuan melalui Pembiayaan Syariah' di RM Rodjo Semarang, Rabu (15/11). Talkshow menghadirkan pembicara Direktur BTPN Syafiah, Ratih Rachmawaty, Direktur Eksekutif Center of Reform in Ecinomics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini dengan moderator Pemred Republika Online (ROL), Elba Damhuri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Momen Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember menjadi peringatan spesial bagi kaum perempuan. Di zaman modern saat ini, perempuan dituntut menjadi sosok panutan bagi generasi yang akan datang.

Direktur Utama BTPN Syariah, Ratih Rachmawaty, menyatakan menjadi perempuan itu hal istimewa yang diberikan Tuhan. Perempuan memiliki tiga peranan yang harus dijalankan secara seimbang.

Sebagai seorang ibu, perempuan menjadi panutan bagi anak-anak. "Anak-anak zaman sekarang melihat ibu pintar dan ibu baik itu sudah biasa. Tapi menjadi teladan dan memiliki akhlak baik dan berperan positif bagi lingkungan sekitar itu menjadi nilai lebih bagi anak-anak. Menjadi role model dan inspirasi bagi generasi yang akan datang," jelasnya saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (21/12).

Peran kedua, lanjutnya, sebagai seorang istri. Perempuan yang aktif bekerja harus mendapatkan restu dari suami. Sebab, berkahnya perempuan pekerja berasal dari suami.

Peran ketiga, sebagai seorang anak. Selama orang tua masih ada, tambahnya, sebisa mungkin meluangkan waktu untuk memberi kabar. "Ketika orangtua sakit kita harus memberikan waktu untuk merawat karena orangtua sumber berkah menjadi ladang rezeki untuk kegiatan sehari-hari," imbuhnya.

Ratih menambahkan, peran perempuan dalam mendukung perekonomian nasional dilihat secara kuantitas kemungkinan lebih sedikit dari laki-laki tapi secara kualitas tidak kalah. "Banyak yang berperan terhadap perekonomian. Nasabah saya perempuan-perempuan mereka bisa mengubah ekonomi keluarga. Ketika mereka mendapat hasil lebih dari usaha semuanya untuk keluarga," ungkapnya.

Meski demikian, dia menilai perempuan harus memiliki tekad untuk belajar, terutama dalam mengatur perekonomian keluarga. Sebab, berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan pada 2016, indeks literasi keuangan secara nasional baru 29,66 persen, sedangkan inklusi inklusi keuangan sebesar 67,82 persen. Artinya, hanya 29,66 persen penduduk Indonesia yang memahami mengenai produk dan layanan jasa keuangan. Sehingga perempuan dapat mengelola keuangan keluarga sesuai dengan kebutuhan.

Advertisement
Berita Lainnya