Senin 13 Nov 2017 19:28 WIB
Dalam 10 Terakhir Turun 25 Persen

Ini Penyebab Populasi Orang Utan Kalimanan dalam Ancaman

Seekor anak orangutan dirawat di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Kalimantan Tengah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (30/3).
Foto: Antara/Norjani
Seekor anak orangutan dirawat di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Kalimantan Tengah di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu (30/3).

REPUBLIKA.CO.ID, Puluhan peneliti menyimpulkan bahwa populasi Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) cenderung menurun hingga 25 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Hasil temuan itu disampaikan oleh puluhan peneliti dari berbagai universitas dan organisasi pegiat lingkungan, termasuk The Nature Conservancy dalam laporan riset yang diterima Antara di Jakarta, Senin (13/11).

Laporan penelitian berjudul "Analisis Integratif Pertama untuk Spesies Orangutan di Borneo" (First integrative trend analysis for a great ape species in Borneo) yang disusun pada Juli 2017 itu menjelaskan, penyusutan jumlah orangutan terjadi akibat hilangnya hutan, konflik dengan manusia, perburuan liar, kebakaran dan dampak perubahan iklim.

Peneliti utama Dr Truly Santika menyampaikan, riset dilakukan menggunakan analisis pemodelan berdasarkan dua data sebaran orangutan, yaitu survei perhitungan sarang dan data keberadaan orangutan yang diperoleh melalui wawancara masyarakat di 540 desa di berbagai wilayah di Kalimantan.

"Dalam kajian-kajian sebelumnya, kedua tipe data ini biasanya dianalisa secara terpisah untuk memberi gambaran sebaran populasi orangutan. Namun, kedua data ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan memadukan kedua data tersebut, keberadaan dan perubahan jumlah populasi orangutan di seluruh Kalimantan bisa diperkirakan secara lebih akurat," ungkap Truly sebagaimana dikutip dari TNC Indonesia.

Sebagai tanggapan atas laporan tersebut, Direktur Program Kehutanan TNC Indonesia Dr Herlina Hartanto memberi sejumlah rekomendasi untuk mengurangi laju penurunan populasi orangutan di Kalimantan. "Tata ruang provinsi perlu memasukkan kawasan lindung habitat orangutan secara khusus dengan melibatkan masyarakat sekitar dan industri yang bergerak di sektor kehutanan-perkebunan secara aktif," kata Herlina di Jakarta.

Pegiat lingkungan itu menambahkan kerja sama melindungi habitat orangutan sebenarnya telah dirintis di beberapa daerah, misalnya Bentang Alam Wehea-Kelay yang telah ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Orangutan.

"KEE Koridor Orangutan Bentang Alam Wehea-Kelay berada di atas tanah seluas 308 ribu hektare. Penetapan lokasi itu merupakan hasil kerja sama pemerintah, masyarakat, swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berkomitmen menjaga satwa karismatik berkategori kritis oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN)," tambahnya.

Sementara itu, Manajer Komunikasi TNC Indonesia Jaka Setia menambahkan berdasarkan hasil riset, populasi orangutan Kalimantan dikelompokkan ke dalam tiga anak jenis.  Jenis pertama Pongo pygmaeus pygmaeus tersebar di sebelah Utara Sungai Kapuas di Kalimantan Barat sampai Sarawak. Sementara itu Pongo pygmaeus wurmbii memiliki sebaran di Barat Daya Kalimantan, bagian Selatan Sungai Kapuas dan bagian Barat Sungai Barito.

"Sedangkan Pongo pygmaeus morio terbatas sebarannya di Sabah dan bagian Timur Kalimantan sampai sejauh Sungai Mahakam," terang Jaka. Laporan penelitian terbaru itu menunjukkan hanya 18 kelompok populasi di antaranya diprediksi akan lestari hingga 100 sampai 500 tahun ke depan.

"Pasalnya, hasil Population and Habitat Viability Assessment Orangutan 2016 memperlihatkan kepadatan populasi orangutan kalimantan cenderung menurun dari 0.45-0.76 individu perkilometer persegi menjadi 0.13-0.47 individu perkilometer persegi yang hidup di habitat seluas 16.013.600 hektare dan tersebar di 42 kelompok populasi (metapopulasi)," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement