REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah alumni Akademi Militer Nasional (AMN) angkatan 1967 pagi hari ini menghadiri acara ‘Reuni Emas’ yang digelar di Gedung Wijayakusuma, Ceger, Jakarta Timur. Sekitar 400 tamu undangan hadir di acara yang diinisiasi Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono ini.
Dalam keterangan tertulis, sejumlah tokoh militer, seperti Try Sutrisno, TB Silalahi, dan Agum Gumelar hadir dalam reuni tersebut. Reuni 50 Tahun AMN 1967 ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang disambung dengan lagu karya Hendropriyono berjudul ‘Diriku Ini Indonesia’ yang dibawakan Paduan Suara Hendropriyono Strategic Consulting (HSC).
Lagu yang membakar semangat nasionalisme dan kebhinekaan ini kompak diikuti tamu yang hadir. Apalagi saat Hendropriyono berdiri dari tempat duduknya, sambil mengepalkan tangan mengajak semua ikut menyanyi.
“Diriku ini Indonesia. Bangsaku ini Indonesia. Tumpah darahku Indonesia. Ku kan setia selamanya,” demikian kutipan lagu tersebut.
Hendropriyono menuturkan, Reuni Emas kali ini digelar untuk menjalin tali silaturahim antar alumni Akmil. “Acara temu kangen semacam ini merupakan wujud kebersamaan, persaudaraan untuk menjalin silahturahmi antara para Alumni,” tutur tokoh intelijen ini.
Kebersamaan, lanjutnya, perlu untuk terus dipelihara, karena dengan kebersamaan dan kekompakan, sehingga akan mampu mewujudkan persatuan di antara para Alumni dan Almamater sebagai sebuah ikatan kesatuan yang kokoh dan kuat.
“Tentu, selain itu, dengan bertemu juga bisa kembali mengupas masa lalu, masa yang tidak akan terlupakan, suatu masa yang penuh dengan suka dan duka dalam mewujudkan cita-cita pengabdian,” tutur dia.
Ia menyebutkan, total Alumni AMN 1967 berjumlah 203 orang, di mana sebanyak 102 orang telah meninggal, di antaranya saat menjalankan tugas.
Diketahui, Alumni AMN 1967 ini merupakan angkatan yang dianggap keramat. Karena merupakan angkatan ke-11, yang dilantik pada tanggal 11, menit ke-11 dan detik ke-11.
Untuk itu, kemudian diputar sebuah video yang menampilkan saat para alumni menjalani pendidikan Akmil di Magelang. Salah satu yang membanggakan para alumni sebagaiman disebut dalam video yakni, pada 1967 itulah integrasi Akabri dilakukan.
Di sela-sela acara, AM Hendropriyono meminta akademi militer mempersiapkan taruna yang memiliki kompetensi lengkap di abad teknologi informasi yang menghadirkan ancaman terhadap keamanan nasional. Ancaman yang tidak lagi konvensional.
Kompetensi lengkap tersebut, menurut Hendropriyono, harus dibangun di atas platform perang berbasis teknologi informasi. “Siapa yang lebih menguasai informasi, dialah yang menang,” tegasnya.
Kepada taruna juga harus dipahamkan, bahwa di dalam perang berbasis teknologi informasi ini, strategi yang dipilih lebih bersifat psikologis, dengan sasaran berupa menghentikan semangat atau kemauan lawan untuk terus bertempur.
Karena itu, menurut Hendropriyono, TNI masa depan adalah tentara profesional yang semakin terampil menjalankan fungsi pertahanan dalam lanskap peperangan baru.
Karena itu, TNI harus lebih dekat dengan rakyat untuk menggalang kekuatan semesta, sehingga strategi hybrid bisa diterapkan secara kenyal, terkoordinasi dan terpadu.
Lebih lanjut Hendropriyono mengatakan, tujuan perang adalah menguasai peradaban lawan, yang menyangkut ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, serta pertahanan dan keamanan. Namun, ada prinsip yang harus dipegang teguh, bahwa keputusan perang merupakan keputusan politik yang bersifat multidimensi.
Jenderal TNI (Purn.) AM Hendropriyono dilantik pada 1967 dengan pangkat Letnan Dua Infanteri. Dua tahun kemudian (1969), Hendropriyono ditugaskan untuk bergabung dalam pertempuran anti gerilya Detasemen Tempur 13 Pasukan Khusus Angkatan Darat yang dipimpin oleh Kapten infanteri Soegito, di sektor Timur Kalimantan Barat.
Tiga tahun setelahnya, pada Agustus 1972, Hendropriyono kembali ditugaskan ke Kalimantan Barat. Kali ini tergabung dalam Satuan Tugas 42 Kopassandha pimpinan Mayor infantri Sintong Panjaitan di sektor Barat. Hendropriyono memimpin operasi intelstrat Halilintar Satgas 42 Kopassandha. Operasi ini merupakan Operasi Sandi Yudha pertama.
Kehadiran akademi militer merupakan gagasan Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Pesiden merangkap sebagai Menteri Pertahanan (Januari 1948 – Desember 1949), untuk melahirkan para perwira militer yang berkualitas. Walaupun Akademi Militer tersebut sempat terhenti, namun kemudian berdiri kembali dengan nama AMN (Akademi Militer Nasional) pada 1957.
Acara Reuni Emas Alumni AMN 1967 dihadiri Wakil Presiden RI ke-6 Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, yang pernah menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ke-7 (1988-1993). Selain Try Sutrisno, tampak hadir Jenderal TNI (Purn.) Agum Gumelar (Alumni AMN 1969), yang pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan pada Kabinet Gotong Royong.
Dari alumni AMN 67 yang menonjol, hadir Letjen TNI (Purn.) Farid Zainuddin, mantan Kepala Badan Intelijen ABRI (BIA) pada 1996, menggantikan Mayjen Syamsir Siregar. Acara reuni yang diketuai Pangdam Tanjungpura Mayjend Andhika Perkasa ini makin hangat dengan hiburan lawak yang menampilkan Cak Lontong, Akbar, dan Tatok.