Selasa 11 Apr 2017 20:06 WIB

Inovasi Teknologi Dukung Pengembangan Agrobisnis Jeruk Nusantara

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Dwi Murdaningsih
Jeruk
Foto: Antara
Jeruk

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fluktuasi produksi jeruk di Indonesia disebabkan oleh perubahan luas area kawasan jeruk di Indonesia. Hal tersebut terjadi akibat serangan penyakit pada tanaman produksi dan teknik budi daya yang tidak tepat. Hal itu pun menjadi tantangan untuk meningkatkan produksi jeruk di Indonesia guna memenuhi kebutuhan konsumsi jeruk nasional dan menekan jumlah impor.

"Upaya peningkatan luas area produksi yang sekaligus akan meningkatkan produksi jeruk telah dilakukan melalui pendekatan on farm yang bersifat teknis. Upaya tersebut dilakukan melalui penyediaan benih varietas unggul bebas penyakit dan teknologi budidaya yang dikemas dalam paket berupa PTKJS (Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat)," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian M Syakir melalui siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (11/4).

Syakir menjelaskan, tingkat konsumsi jeruk di Indonesia masih sangat rendah yaitu sebesar 2,69 kilogram per kapita dalam satu tahun. Upaya peningkatan nilai konsumsi telah dilakukan dengan meningkatkan tingkat produksi dalam menyediakan jeruk di dalam negeri. Akan tetapi, upaya tersebut belum mampu meningkatkan produksi secara signifikan sehingga masih perlu ada impor jeruk meski tidak dalam jumlah banyak.

Agribisnis jeruk yang berkembang di Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan jenisnya, yaitu Jeruk Siam atau Keprok dan jeruk Besar. Luas kawasan dua jenis jeruk tersebut yakni 51 ribu hektare untuk jeruk Siam dan lima ribu hektare untuk jeruk besar. Sementara untuk produksinya, masing-masing sebesar 1,7 ton dan 141 ribu ton pada tahun 2014.

Terjadi fluktuasi luas area pertanaman jeruk Siam di Indonesia. Penurunan luas panen terjadi pada kurun 2010 sampai 2012 dari 50 ribu hektare menjadi 46 ribu hektare. Sedangkan, pada 2013 dan 2014 terjadi peningkatan drastis menjadi 48 ribu hektare dan kemudian 51 ribu hektare. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadapproduksi jeruk di Indonesia. Lima sentra produksi jeruk di Indonesia adalah Jawa Timur, Sumatra Utara, Bali, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan dengan luas berkisar dari tiga sampai 14 ribu hektare.

Oleh karena itu, PTKJS dirancangan untuk mendukung pengembangan kawasan agrobisnis jeruk Nusantara. PTKJS merupakan paket teknologi yang dirakit dari beberapa komponen yang harus diaplikasikan pada kegiatan budidaya jeruk. Komponen teknologi di dalam PTKJS adalah penggunaan benih jeruk berlabel dan bebas penyakit, pengendalian hama penular CVPD, penerapan sanitasi kebun, pemeliharaan tanaman secara optimal, dan konsolidasi pengelolaan kebun pada suatu kawasan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement