Rabu 30 Nov 2016 14:07 WIB

Gubernur Bali: Hindari Provokasi

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Winda Destiana Putri
Para tokoh agama menggelar doa bersama Nusantara Bersatu di lapangan Margarana, Denpasar, Rabu (30/11).
Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Para tokoh agama menggelar doa bersama Nusantara Bersatu di lapangan Margarana, Denpasar, Rabu (30/11).

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Doa Nusantara Bersatu digelar di Provinsi Bali, Rabu (30/11) melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan tokoh lintas agama. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika mengingatkan seluruh pihak akan keberadaan provokator yang memanfaatkan situasi di Indonesia saat ini.

"Mari kita pahami dan amalkan Pancasia. Masyarakat jangan sampai terprovokasi dan ikut memperbesar perbedaan," kata Pastika, Rabu (30/11). Pengalaman, pemahaman, dan penghayatan Pancasila, kata mantan Kapolda Bali itu bukan sekadar semboyang yang bisa diucapkan dan didituliskan kapan saja.

Persoalannya seberapa jauh rakyat Indonesia bisa melaksanakan butir-butir Pancasila tersebut. "Mari kita renungkan kembali sudahkah kita melaksanakan dan mengamalkan Pancasila tersebut?," ujarnya.

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Ida I Dewa Ngurah Suasta menambahkkan Bali menjadi ikon nasional dalam menjaga kerukunan umat beragama. Bali memiliki identitas filosofi menguatkan Pancasila, yaitu konsep menyama braya dan tat twam asi. "Oleh sebab itu kami megajak semua masyarakat dari lapisan suku dan agama di Bali untuk berkumpul dan berdoa agar semangat ini bisa ditularkan ke seluruh Indonesia demi persatuan dan kesatuan bangsa," katanya.

Danrem 163/Wira Satya, Kolonel Infanteri I Nyoman Cantiasa mengatakan acara Doa Nusantara Bersatu dari Bali dilakukan untuk mengantisipasi maraknya isu-isu provokatif yang bergulir di kalangan masyarakat, khususnya melalui media sosial. Oknum-oknum tertentu sedang berusaha mendalangi perpecahan anak bangsa di tengah situasi nasional yang tengah memanas. "Jangan sampai kita terpengaruh propaganda dan provokasi yang mengadu domba, saling curiga, dan memfitnah sesama anak bangsa,"katanya.

Cantiasi mencontohkan sifat kedaerahan zaman penjajahan sudah banyak mengajarkan rakyat bahwa 300 tahun perjuangan itu tidak pernah berhasil. Kemerdekaan baru bisa terwujud setelah ikrar Sumpah Pemuda, yaitu bertanah air satu (Indonesia), berbahasa satu (Bahasa Indonesia), dan berbangsa satu (Bangsa Indonesia).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement