REPUBLIKA.CO.ID, LANGKAT -- Pohon nipah (nypa fruticans) dan kepala (cocos nucifera) dapat tumbuh subur di sejumlah wilayah Tanah Air. Pohon-pohon jenis itu memiliki berbagai manfaat, tak hanya buah, tapi juga hampir semua bagian bisa dimanfaatkan. Namun, bagi masyarakat Kecamatan Hinai, Kecamatan Langkat, Provinsi Sumatera Utara, lidi yang dihasilkan kedua pohon itu memiliki nilai jual yang cukup tinggi karena mampu menembus pasar ekspor Arab Saudi.
Ya, sapu lidi hasil kerajinan warga Kecamatan Hinai Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sudah enam tahun diekspor ke Pakistan, Arab Saudi, dan Malaysia. "Sudah lama bisnis sapu lidi ini untuk tujuan ekspor," kata pengusaha sapu lidi asal Kecamatan Hinai Marliah di Hinai, Rabu.
"Bisnis pengiriman sapu lidi ketiga negara tersebut sudah dilakukannya sejak tahun 2010 yang lalu kini semakin maju pesat karena banyaknya permintaan dari ketiga negara itu," katanya.
Dirinya melakukan usaha ekspor sapu lidi itu bermula dari informasi teman-temannya yang pernah melakukan yang sama. Lidi-lidi sebagai bahan baku utama ia kumpulkan dari warga Langkat, hingga Aceh dan Riau.
"Lidi yang diekspor ini merupakan lidi dari daun kelapa, kelapa sawit serta lidi dari pohon nipah," katanya. Harganyapun bervariasi antara Rp3.200 hingga Rp3.500 per kilogram sapu lidi kelapa dan sapu lidi kelapa sawit, sementara sapu lidi pohon nipah 7.500 dengan syarat kekeringannya tidak boleh lebih dari 30 persen.
Setiap kali ekspor, dia mempergunakan kontainer berisi 25 ton sapu lidi. "Biasanya setiap satu minggu diekspor satu kontainer sapu lidi," ungkapnya.
Pada musim hujan seperti sekarang, dia hanya bisa mengekspor sapu lidi dua atau tiga minggu sekali, dengan harga lebih tinggi karena biaya produksi juga meningkat. "Bisnis sapu lidi ini sangat memberikan prospek yang cukup cerah buat penambahan pendapatan keluarga," katanya.