Jumat 14 Oct 2016 16:18 WIB

Balitbang Miliki 9 Varietas Unggulan Jambu Mete

BIJI JAMBU METE. Seorang warga menunjukkan biji jambu mete hasil panenannya di Dusun Gondang Timur, Desa Gondang, Kec. Gangga, Tanjung, Kab. Lombok Utara, NTB, Selasa (9/10). Biji jambu mete yang telah melalui proses pengeringan tersebut dijual kepada seha
Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi
BIJI JAMBU METE. Seorang warga menunjukkan biji jambu mete hasil panenannya di Dusun Gondang Timur, Desa Gondang, Kec. Gangga, Tanjung, Kab. Lombok Utara, NTB, Selasa (9/10). Biji jambu mete yang telah melalui proses pengeringan tersebut dijual kepada seha

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Revitalisasi peran agribisnis tanaman jambu mete secara komprehensif mendesak dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk perkebunan. Hal ini dinilai mampu mendorong penerimaan devisa negara dan menyejahterakan masyarakat.

Peneliti Ecofisiologi Mete dari Balitro Badan Litbang Pertanian, Joko Pitono mengatakan Balitbang memiliki sembilan varietas unggulan jambu mete yang akan diuji cobakan bersama Dirjen perkebunan. "Dengan menerapkan metode multi cropping, yakni menanam tanaman lain di sela-sela tanaman jambu mete, untuk menambah nilai ekonomi bagi petani," katanya.

Dia mengatakan banyak faktor yang menyebabkan kendala pada perkebunan jambu mete di tanah air. Kendala perkebunan jambu mete di antaranya, bahan tanaman atau jenis varietas mete yang asal-asalan, belum menggunakan varietas unggulan.

"Pemeliharaan yang lazimnya bagus dipelihara dengan pupuk, sehingga tidak bisa mengendalikan hama, dan mete yang dikembangkan di suboptimal, sehingga kurang mampu memberikan tambahan pendapatan bagi petani," katanya.

Persoalan lainnya, harga jual mete yang masih rendah, dan hampir sebagian besar perkebunan jambu mete adalah perkebunan rakyat, tidak seperti sawit yang kini didominasi swasta perkebunan.

Kepala Badan Litbang Pertanian Muhammad Syakir mengatakan Balitbang terus meningkatkan dan memanfaatkan inovasi teknologi guna merevitalisasi peran tanaman perkebunan untuk meningkatkan devisa negara dan kesejahteraan masyarakat. Ia mengatakan, hingga saat ini aktivitas agribinis jambu mete di seluruh sentra produksi belum berjalan maksimal dan belum mampu memberikan tambahan pendapatan yang memadai bagi para petani. Nilai ekonomi yang diterima petani jambu mete dinilai masih rendah.

Menurut dia, permasalahan mendasar pengembangan produk jambu mete di Indonesia di antaranya adalah pemasaran dan harga yang rendah sehingga kurang menggairahkan minat petani untuk lebih serius menggeluti agribisnis jambu mete. Di satu sisi dukungan pemerintah pada pengembangan agribisnis jambu mete masih kurang dan pihak industri pemrosesan dalam negeri yang tidak berkembang.

"Kesungguhan semua pihak untuk sama-sama memajukan agribisnis jambu mete nasional perlu ditampakkan," katanya.

Syakir mengatakan, potensi lahan kering yang tersedia, potensi agribisnis jambu sangat potensial sebagai salah satu pilar untuk menyejahterakan masyarakat di wilayah tersebut. "Kami mendukung program peningkatan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah berlahan kering, beriklim kering secara berkelanjutan perlu segera dilakukan revitalisasi agribinisnisnya," katanya.

Melalui forum komunikasi jambu mete II ini diharapkan dapat dihasilkan rumusan komitmen dan rencana aksi dari masing-masing pihak pemangku kepentingan untuk mewujudkan agribisnis jambu mete yang lebih tangguh dan langsung memberikan dampak peningkatan kesejahteraan petani.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement